DetikNews
Jumat 09 November 2018, 12:58 WIB

Gedung PN Makassar, Saksi Bisu Diskriminasi Hukum Penjajah Belanda

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Gedung PN Makassar, Saksi Bisu Diskriminasi Hukum Penjajah Belanda Foto: PN Makassar (topik/detikcom)
Makassar - Gedung Pengadilan Negeri (PN) Makassar menjadi salah satu bagian bersejarah yang berada di Makassar. Bangunan ini menjadi saksi bisu adanya perlakukan berbeda terhadap warga lokal dan bangsawan.

Ciri khas dari PN Makassar yang masih terlihat hingga saat ini adalah bangunan bergaya eropa klasik yang masih terlihat sama semenjak pertama kali di bangun pada tahun 1915. Ciri khas klasik itu juga menonjol pada lekukan-lekukan daun pintu dengan cat putih dan pilar-pilar di bangunan utama yang masih kokoh. Yang tampak berbeda adalah 3 jalan utama yang tadinya ada untuk masuk ke dalam PN Makassar, kini berkurang.

Yang tertinggal, adalah pintu utama masuk ke PN Makassar dari arah Jalan Kartini dan jalur belakang yang terhubung dengan dengan Jalan Ammanagappa. Sementara itu, jalur ketiga yang menuju jalan Jenderal Sudirman sudah tidak ada agi. Jalan ini telah beralih fungsi menjadi parkiran kendaraan

Berdasarkan arsip catatan Kota Makassar yang berasa di Museum Makassar di Jalan Balai Kota, Kota Makassar, disebutkan bahwa sebelum tahun 1915, status otonomi Kota Makassar ditetapkan sebagai otonomi oleh pemerintah Belanda, atau tepatnya pada tahun 1903. Namun, secara administrasi, pemerintah baru mengusai wilayah Sulsel tahun 1906. Di tahun yang sama, atau pada tanggal 1 April Makassar beralih status menjadi Kotapraja.
Gedung PN Makassar, Saksi Bisu Diskriminasi Hukum Penjajah Belanda

Ihwal pembentukan pengadilan milik ini Belanda terjadi setelah penaklukan Kesultanan Banten tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen. Kala itu, dibentuk kepala kepolisian atau sejenis opsir dan menyusul pembentukan majelis pengadilan yuang dinamakan Raad van Justisie.

Nah, Raad van Justisie yang berdiri di Makassar cukup menarik. Bangunan yang berdiri tepat di depan Lapangan Karebosi ini dibagi menjadi dua.

Untuk bangunan sebelah utara, diperuntukkan bagi pengadilan untuk orang-orang China, dan orang pribumi keturunan bangsawan.

"Sisi lainnya merupakan pengadilan untuk orang-orang Pribumi. Letaknya di bagian selatan bangunan," kata Kepala Humas PN Makassar, Bambang Nurcahyo saat ditemui detikcom, Jumat (9/11/2018).

Bambang mengatakan, dari arsip sejarah PN Makassar, bangunan ini awalnya seluas 48,40 m x 44,90 m dan bergaya arsitektur Neo Clasik Eropa campuran, Renaissance dan Romawi. Namun, bangunan diakuinya mengalami beberapa perubahan karena ada beberapa bagian yang telah direnovasi akibat telah tua dimakan waktu.

"Namun secara umum, tidak banyak peninggalan arsitektur dari era kolonial tidak berubah baik dari segi fungsi dan bentuknya," ujarnya.
(fiq/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed