"Terima kasih kepada Bapak-Ibu sekalian yang begitu perhatian dengan kami, khususnya tim SAR gabungan. Kami memahami, kami bukan manusia super yang sempurna. Kami tetap berusaha sekuat tenaga. Dengan apa yang kami miliki, kami yakin bisa mengevakuasi seluruh korban. Bapak-Ibu...," tutur M Syaugi menghentikan pernyataannya di hadapan keluarga korban Lion Air di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/11/2019).
M Syaugi, yang duduk bersebelahan dengan Kapusdokkes Polri Brigjen Arthur Tampi, menyeka air mata. Brigjen Arthur sempat membuka sebotol air mineral untuk Syaugi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"...Terima kasih kepada Bapak-Ibu sekalian yang begitu perhatian dengan kami, khususnya tim SAR gabungan. Kami memahami kami bukan manusia super yang sempurna. Kami tetap berusaha sekuat tenaga. Dengan apa yang kami miliki kami yakin bisa mengevakuasi seluruh korban, Bapak-Ibu...," sambungnya kembali terdiam.
"Saya di lapangan, di laut... maaf, untuk melakukan pencarian ini. Saya tidak menyerah," tegas Syaugi lantang disambut tepuk tangan keluarga korban yang hadir.
Syaugi memastikan tim SAR gabungan mengoptimalkan pencarian yang diperpanjang tiga hari sejak Minggu (4/11). Operasi pencarian diprioritaskan terhadap evakuasi korban.
"Mudah-mudahan dengan waktu yang ada ini, kami tetap all-out walaupun sampai 10 hari nanti. Kalaupun masih ada kemungkinan untuk bisa ditemukan, saya yakin bawah saya terus mencari saudara-saudara korban. Kami mohon doanya kepada Bapak-Ibu sekalian untuk kita bisa kuat, melakukan tugas-tugas yang mulia ini," papar Syaugi.
Dalam pertemuan dengan Kabasarnas, Menhub, KNKT, perwakilan Polri dan KNKT, keluarga korban menyoroti manajemen Lion Air. Kabar ditemukannya masalah Lion Air PK-LQP di Denpasar sehari sebelum jatuh di perairan Karawang diminta diinvestigasi.
"Kami dapat informasi, benar atau tidak, benar atau tidak kalau pesawat ini sudah trouble di Bandara Ngurah Rai, kemudian ada perbaikan. Apakah perbaikan itu sudah clear," kata M Bambang Sukandar, ayah penumpang Lion Air Panky Pradana Sukandar, di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/11/2018).
Bambang meminta pertanggungjawaban teknisi Lion Air. Dia menuntut pihak Lion Air menjelaskan secara rinci persoalan pesawat PK-LQP saat terbang dari Bandara Ngurah Rai menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.
"Nyawa seratusan itu harus dipertanggungjawabkan. Hukumnya mutlak karena menyatakan pesawat clear untuk take off. Kami mohon dengan hormat peristiwa ini jangan sampai terjadi. Tolong proses hukum teknisi-teknisi yang tidak benar," sambungnya.
Sementara itu, fakta terbaru dari jatuhnya Lion Air PK-LQP terungkap. Salah satunya adalah rusaknya airspeed indicator di pesawat itu pada empat penerbangan terakhir.
"Pada empat penerbangan terakhir ditemukan kerusakan pada penunjuk kecepatan di pesawat, airspeed indicator," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.
Sedangkan Tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri berhasil mengidentifikasi 13 jenazah penumpang Lion Air PK-LQP. Dengan tambahan 13 jenazah itu, total jenazah yang teridentifikasi 27 orang. (fdn/imk)