detikNews
Senin 05 November 2018, 21:23 WIB

MPR: Persatuan Adalah Kunci Hadapi Berbagai Bentuk Ancaman

Akfa Nasrulhak - detikNews
MPR: Persatuan Adalah Kunci Hadapi Berbagai Bentuk Ancaman Foto: MPR
Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menekankan pentingnya persatuan nasional sebagai kunci menjaga keselamatan bangsa. Menurutnya, bangsa Indonesia bisa lepas dari penjajah dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 tidak lain karena bisa bersatu dan tidak mau dipecah belah Belanda lagi dengan politik devide et imperanya.

"Bentang sejarah di Tanah Air membuktikan bahwa persatuan nasional melahirkan peristiwa-peristiwa besar. Sebut saja kebangkitan nasional tahun 1908, Kongres Pemuda Pertama dan Kedua pada tahun 1926 dan 1928 hingga Proklamasi tahun 1945. Bahwa pemudalah yang menjadi pelopor persatuan nasional," ujar Basarah, dalam keterangan tertulis, Senin (5/11/2018).



Dalam acara Peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda di Universitas Brawijaya, Basarah menyampaikan bahwa upaya menggalang persatuan nasional terlihat jelas ketika Bung Karno pada tahun 1927 mendirikan PNI dan tokoh-tokoh NU mendirikan NU tahun 1926, dan berdirinya Muhammadiyah tahun 1912.

Dalam kuliah umum bertajuk "Implementasi Nilai-nilai Sumpah Pemuda di Era Milenium" bersama Menpora Imam Nahrowi dan Dosen UB Ali Safaat ini, Basarah mengkisahkan di tahun 1928 saat terjadi Kongres Pemuda II.



Peristiwa ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda dan menjadi titik tolak peleburan identitas kedaerahan berbagai organisasi pemuda. Segenap pemuda dan pemudi sepakat menanggalkan ikatan primordial dan menggemakan semangat persatuan nasional.

"Karena itulah pemuda merupakan tulang punggung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemuda yang bersatu telah melahirkan rentetan peristiwa-peristiwa besar. Dan persatuan nasional adalah kunci dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dan penjajahan," terang Anggota DPR RI dari Dapil Malang Raya itu.

Di sisi lain, lanjut Basarah, peringatan 90 tahun momentum sumpah pemuda harus dijadikan refleksi dan proyeksi perjalanan bangsa ke depan. Hal itu karena pada tahun 1928 para pemuda dan pemudi mengenyahkan perbedaan dan mencari titik temu. Sebaliknya di era milenium seperti saat ini fenomena yang nampak pemuda justru memperdebatkan perbedaan.

Dulu, sambung Basarah, para pemuda sepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Namun kini, banyak pemuda yang bangga berbahasa asing. Menurutnya, Sumpah Pemuda tahun 1928 melahirkan ide dan terobosan besar. Inisiatornya adalah para pemuda. Segenap pemuda sepakat menjunjung persatuan nasional. Inilah teladan yang bisa kita petik.

"Warisi api sumpah pemuda, jangan sia-siakan pengorbanan para pejuang dan syuhada bangsa yang telah mewariskan kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Warisilah api dan semangat persatuan nasional jangan kita kembali jaman kegelapan ketika bangsa kita mudah diadu-domba kekuatan asing," pungkasnya.
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com