Rumah Diterobos Penerjun Payung, Pemilik Diganti Rp 300 Ribu
Kamis, 25 Agu 2005 10:40 WIB
Jakarta - Waluyo Sejati kini plong. Setelah menulis surat pembaca di koran lokal Yogyakarta, Waluyo didatangi oleh panitia terjun payung. Waluyo menganggap persoalan selesai. Dia tidak mempermasalahkan uang pengganti Rp 300 ribu sebagai pertanggungjawaban terhadap kerusakan atap rumahnya karena diterobos oleh penerjun payung. Waluyo Sejati adalah rakyat biasa. Dia tinggal di Nyutran, Yogyakarta. Waluyo mengalami nasib naas pada 16 Agustus 2005, sehari sebelum peringatan HUT ke-60 RI. Di hari menjelang siang, saat dirinya rehat, tiba-tiba seorang penerjun payung jatuh dari langit dan menerobos atap rumahnya. Kejatuhan benda seberat 70 kg itu jelas membuat atap rumahnya rusak. Saat Waluyo melongok, si penerjun tengah tersipu sembari meringis kesakitan. Insting menolong Waluyo pun keluar. Dia pun membantu si penerjun untuk lepas dari jeratan temali payung dan juga himpitan genting. Begitu lolos, dengan muka merah, si penerjun berucap terimakasih ala kadarnya, si penerjun lari menuju alun-alun utara Kota Yogyakarta.Waluyo hanya bisa geleng-geleng kepala dengan polah si penerjun yang gagal yang terkesan tidak bertanggung jawab itu. Kasus itu terngiang-ngiang hingga beberapa hari. Akhirnya, karena penasaran, Waluyo meminta anaknya, Berkah Mangku untuk menulis surat pembaca yang dimuat harian lokal Yogyakarta pada Selasa (23/8/2005) kemarin. Setelah surat pembaca nongol di koran, panitia penerjun payung pun langsung memberi respons. Panitia berjanji bertandang ke rumah Waluyo sesegera mungkin untuk meminta maaf dan mempertanggungjawabkan kecelakaan itu. Berkah Mangku saat dihubungi detikcom, Kamis (25/8/2005), mengaku panitia terjun payung sudah mendatangi rumahnya pada Rabu sore 24 Agustus. Panitia juga telah meminta maaf atas kejadian itu dan memberikan uang kepada ayahnya sebesar Rp 300 ribu sebagai biaya perbaikan atap itu. Berkah mengaku, sebenarnya ayahnya tidak mempermasalahkan uang ganti rugi. "Yang penting bagi bapak, ada yang berani bertanggung jawab terhadap kejadian itu. Atap rumah rusak, sebenarnya bapak sudah ikhlas," kata Berkah. Setelah panitia terjun payung datang, kata Berkah, ayahnya kini sudah plong, karena sudah ada pihak yang bertanggung jawab. Apalagi, panitia terjun payung juga memberikan uang sebesar Rp 300 ribu. Saat ditanya apakah uang Rp 300 ribu cukup untuk memperbaiki atap rumahnya yang rusak, Berkah menyerahkan kepada ayahnya. "Cukup atau nggak, itu tergantung bapak. Bapak sih nggak mempermasalahkan," kata Berkah.
(asy/)











































