Smart Reforse System (SRS) merupakan alat yang memiliki cara kerja mendeteksi ketika banjir bandang datang secara tiba-tiba. Selain itu juga, ketika banjir bandang datang dengan volume yang tinggi pasti membawa juga material-material dan akan memisahkan material-material yang dibawa dengan air yang datang.
"Nah, ketika sudah sampai di suatu sungai alat ini akan berfungsi memisahkan meterial dengan air, sehingga air yang mengalir itu bisa langsung terfiltrasi difiltrasi yang sudah disediakan," ujar Ali Hasan saat di acara Madrasah Robotics Competition di Depok Town Square, Minggu (4/11/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam filtrasi kedua itu, air tersebut akan dialiri ke rumah warga sedangkan air yang sebelumnya tadi akan mengalir ke sawah-sawah penduduk," tambah Ali.
Siswa yang bersekolah di MAN 3 Jakarta Pusat itu mengaku terinspirasi karena seringnya mendengar berita banjir di Indonesia.
"Saya dan teman saya di berita sudah sering kali mendengar bencana alam banjir bandang karena curah hujan yang tinggi," ungkap Ali.
Selain itu, lanjut Ali, banjir bandang juga tidak bisa diprediksi karena datangnya tiba-tiba. Bahkan selain faktor cuaca, banjir bandang juga bisa dari faktor alam dan juga manusia itu sendiri.
Pembuatan alat SRS memakan waktu yang tidak begitu lama, sekitar 1 minggu.
"Ya sekitar satu minggu, itupun dengan bergadang ya," tutur Ali.
Namun, dalam waktu satu minggu yang mereka miliki, hal yang paling susah adalah membuat sistem conveyor nya. Ia mengungkapkan karena sampah yang ada di sungai itu berbeda-beda bentuknya, ada yang kecil, besar, berat, dan ringan.
Foto: Nabila Putri |
Sehingga conveyor sampah tersebut harus menyesuaikan sampah dan alur sungainya sesuai kondisi air sungainya.
"Sehingga jika membuat conveyor disetiap sungai pasti berbeda-beda. Satu lagi, kita harus memuat conveyor yang kuat, bisa jadi conveyor itu akan terhanyut oleh banjir bandang tersebut," tutup Ali.
Dirjen Pendis Kemenag, Kamaruddin Amin mengatakan dismping ikut mencari bibit-bibit yang berkualitas juga bisa kembangkan dan dibina. Sehingga lebih berprestasi hingga dalam tingkat internasional.
"Kita akan menemukan bibit-bibit yang unggul dan berpotensi di masa depan yang memotivasi dan memberikan semangat bukan hanya kepada siswa siswi tetapi juga pada guru-guru," ujar Kamaruddin. (ega/mul)












































Foto: Nabila Putri