detikNews
Sabtu 03 November 2018, 17:50 WIB

20 Tahun Jadi Penulis Pidato Presiden Soeharto

Pasti Liberti - detikNews
20 Tahun Jadi Penulis Pidato Presiden Soeharto Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Menjelang perayaan Idul Adha pada pertengahan 1970-an, datang sepucuk surat dari Sekretariat Negara yang dikirim Moerdiono, Asisten Menteri Sekretaris Negara Urusan Khusus, ditujukan kepada Menteri Agama Mukti Ali. Moerdiono meminta Departemen Agama menyiapkan sambutan Presiden Soeharto pada Hari Raya Idul Adha. Karena Mukti Ali sedang berada di Mekah sebagai Amirul Hajj Indonesia, surat itu akhirnya disampaikan kepada Bahrum Rangkuti, Sekretaris Jenderal Departemen Agama. Djohan Effendi-lah yang akhirnya diminta oleh atasannya membuat naskah pidato tersebut.

Djohan Effendi seorang putra Banjar. Dia lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan. Selepas sekolah menengah, ia mendapat beasiswa ke Pendidikan Hakim Islam Negeri di Yogyakarta. Setelah selesai pada 1960, ia kembali ke daerahnya dan memulai kariernya sebagai pegawai negeri di kantor Pengadilan Agama di Amuntai, Hulu Sungai Utara. Hanya dua tahun berdinas di Amuntai, Djohan mendapat tugas belajar ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga pada Fakultas Syariah.

Setelah menyelesaikan studinya di Yogyakarta, Djohan berangkat ke Jakarta. Dia kemudian diangkat menjadi staf pribadi Sekretaris Jenderal Departemen Agama Bahrum Rangkuti. Sebagai staf pribadi, tugasnya membaca dan membuat disposisi surat-surat yang ditujukan kepada Sekjen Departemen Agama. Djohan pun sering diminta menggantikan Bahrum untuk mengajar di Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi di beberapa departemen. Saat mendampingi Bahrum inilah karier Djohan sebagai penulis naskah pidato berawal.

Sepertinya naskah pidato yang dibuat Djohan untuk Presiden Soeharto itu mencuri perhatian Mukti Ali. Mukti, yang juga mentornya di kelompok diskusi Limited Group, meminta Djohan pindah jadi staf pribadi menteri. Kali ini pekerjaan utamanya berubah. Undangan dan permintaan untuk berceramah selalu menumpuk di meja menteri. Djohan-lah yang diberi tugas menyiapkan materinya. "Ia (Djohan) tak pernah diberi petunjuk isi ceramah," kata Ahmad Gaus, penulis biografi Djohan. Namun Djohan tak menemui kesulitan karena sudah sangat memahami pemikiran-pemikiran Mukti Ali lewat diskusi-diskusi.

Sejak saat itu, Djohan juga merangkap sebagai penulis pidato Presiden, tugas yang diembannya hingga hampir 20 tahun. "Djohan juga tidak mendapat imbalan atas pekerjaan tersebut," ujar Ahmad. Presiden Soeharto sendiri mungkin tak tahu bahwa Djohan-lah yang menulis pidatonya. Selama jadi penulis pidato Presiden, hanya sekali Djohan bersalaman dengan Soeharto. Tapi Djohan menikmati menjadi penulis pidato orang nomor satu di Indonesia itu.

Bagaimana cerita lengkap dan suka-duka Djohan Effendi jadi penulis pidato Presiden Soeharto, baca selengkapnya di detikX, Pidato Presiden Soeharto dan Mikrolet Djohan
(pal/sap)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com