Kisah Nelayan di Bali yang Hidup dari Mangrove

ADVERTISEMENT

Kisah Nelayan di Bali yang Hidup dari Mangrove

Azizah Rizki - detikNews
Kamis, 01 Nov 2018 17:44 WIB
Mangrove sebagai penghidupan nelayan Wanasari (Azizah/detikcom)
Badung - Kelompok Nelayan Wanasari mulai merasakan kesejahteraan sejak mereka berkenalan dengan mangrove. Hutan mangrove disebut sebagai berkah bagi nelayan di Tuban, Badung, Bali.

"Wanasari itu wana artinya hutan, sari adalah berkah yang kita dapatkan dari hutan," kata Ketua Kelompok Nelayan Wanasari Made Sumasa di Kampung Kepiting Tuban, Badung, Bali, Kamis (1/11/2018).


Kisah Nelayan di Bali yang Hidup dari MangroveMangrove sebagai penghidupan nelayan Wanasari (Azizah/detikcom)


Made menceritakan, awalnya aktivitas nelayan di sini hanya menangkap ikan, lalu menjualnya. Saat musim paceklik, nelayan pun kelimpungan sehingga melakukan pekerjaan sebagai buruh.

"Tapi sekarang tidak seperti itu, karena nelayan Wanasari sudah sejahtera. Hasil inovasi kami adalah bagaimana kami membuat program sehingga perekonomian masyarakat pesisir ini bisa terangkat dan berkesinambungan," jelasnya.



Inovasi yang disebut Made berupa pengolahan hasil hutan mangrove yang meliputi buah pidada dan buah lindur serta budi daya kepiting. Kegiatan tersebut, menurutnya, dapat menyejahterakan masyarakat nelayan.

"Nelayan Wanasari bisa mengasuransikan anggotanya, setiap 6 bulan ada SHU (sisa hasil usaha), setiap bulan bisa gaji ibu-ibu nelayan yang sudah bekerja sebanyak 40 orang. Nelayan bisa jual tunai juga di sini, jadi bukan ke tengkulak," papar Made.

Pengolahan hasil hutan mangrove dilakukan oleh kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Wana Lestari. Mereka mengolah buah lindur dan buah pidada dari pohon mangrove menjadi beragam kuliner yang memiliki nilai tambah.

"Buah lindur, kami menghasilkan beragam olahan, ada nugget, kami juga olah jadikan tepung. Kalau sudah jadi tepung bisa kami jadikan beragam kue, tapi butuh proses. Buah pidada, dengan karakter cita rasanya asam. Hasil olahannya berupa sirop, kami inovasikan cokelat, selai, permen, dan banyak inovasi juga hasil olahan dari buah pidada ini," kata Ketua KWT Poklahsar Kadek Sulasmini.

Terkait dengan budi daya kepiting, Made menegaskan hal itu sangat sensitif dengan keberadaan sampah. Pasalnya, sampah bisa sangat mengancam ekosistem mangrove. Dengan terancamnya pohon mangrove, akan mengancam habitat kepiting itu sendiri.

"Karena tidak bisa terpisahkan antara pohon mangrove dan kepiting. Itu sangat erat. Jadi jangan pernah membuang sampah sembarangan atau plastik-plastik itu. Itu yang kita jaga, terutama di perkotaan. Kan buang ke sungai, pasti nanti muaranya ke laut itu," tegasnya. (rvk/asp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT