"Kemarin sudah resmi dibubarkan untuk Satgas Karhutla Sumsel. Artinya, dengan pembubaran ini, tugas Satgas selesai di 31 Oktober," ujar Kepala BPBD Sumatera Selatan, Iriansyah, Kamis (1/11/2018).
Alasannya, menurut Iriansyah, adalah semakin berkurangnya titik api. Sesuai surat keputusan gubernur, tugas Satgas pun berakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, memasuki bulan November ini, status siaga juga sudah tidak terjadi lagi. Bahkan diprediksi oleh BMKG, bulan ini memasuki pergantian cuaca ke musim hujan.
"Posko sementara ini resmi ditutup. Tapi OPD tetap bersiaga di instansi masing-masing. Sedangkan daerah rawan tetap siaga untuk menanggulangi seandainya terjadi kebakaran lahan," katanya.
"Saya berterima kasih kepada semua tim yang terlibat. Berkat kerja samanya, tidak ada kabut asap saat Asian Games 2018," kata Iriansyah.
Baca juga: Indonesia Cuma Punya 2 Pesawat Pembuat Hujan |
Sementara itu, Dansatgas Udara Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH), Kolonel Pnb Heri Sutrisno, menyebut, dengan berakhir Satgas Karhutla, seluruh helikopter waterboombing akan ditarik.
"Sejak Satgas dibubarkan, otomatis heli water boombing juga dikembalikan ke asalnya. Hari ini masih ada lima terparkir di Baseops Lanud, menunggu jadwal untuk pulang," kata Heri Sutrisno.
Namun, Lanud SMH mengaku siap jika suatu saat ada kebakaran dan membutuhkan operasi udara. Bahkan di semua daerah sudah disiagakan untuk mengantisipasi terjadinya karhutla.
"Kalau nanti seandainya dibutuhkan, kita siap. Jadi semua kegiatan operasi udara selesai mulai hari ini. Selanjutnya tetap menunggu arahan dari Gubernur kalau ada situasi darurat karhutla," tutupnya.
Sebagaimana diketahui, lebih dari 7.000 hektare lahan di Sumsel terbakar sejak awal 2018. Lahan yang terbakar itu mayoritas berada di wilayah Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin, yang merupakan lahan gambut. (ras/rvk)










































