Pengkloning Anjing dari Magelang Pernah Derita Kanker Otak

Pengkloning Anjing dari Magelang Pernah Derita Kanker Otak

- detikNews
Rabu, 24 Agu 2005 15:39 WIB
Pengkloning Anjing dari Magelang Pernah Derita Kanker Otak
Jakarta - Siapa sangka, Yuda Heru Fibrianto, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berhasil mengkloning anjing bersama para ilmuwan di Korea, ternyata pernah menderita kanker otak. Namun, penyakitnya itu tidak menyurutkan semangatnya untuk memperdalam bioteknologi di Seoul, Korea.Tahun 2002 lalu, Yuda berangkat ke Seoul untuk melanjutkan studinya di Seoul National University (SNU). Peraih gelar sarjana dokter hewan dan magister sains dari UGM ini mendapat beasiswa untuk belajar di perguruan tinggi bergengsi itu untuk meraih gelar Phd.Di universitas itu, Yuda dibimbing oleh Profesor Hwang Woo-Suk, yang dikenal sebagai ahli kloning terkenal dunia. Yuda beruntung bisa menyeruput ilmu tentang kloning dari Hwang. Setahun setelah belajar di universitas itu, Yuda pun dipercaya oleh Profesor Hwang untuk terlibat dalam proyek kloning anjing.Profesor Hwang yang menjadi tutornya tidak membeda-bedakan etnis antara seluruh mahasiswa. Satu ciri khas Hwang, ia menuntut mahasiswanya benar-benar belajar dengan serius. "Saya harus memulai eksperimen tepat pukul 7 pagi setiap hari. Dan tidak ada waktu untuk istirahat. Demikian juga pada hari Minggu dan hari libur," kata Yuda saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (24/8/2005).Namun, di tengah menekuni proyek kloning anjing ini, tiba-tiba Yuda terserang kanker otak. Tahun lalu, kandidat doktor berusia 36 tahun ini sempat pingsan dua kali saat sedang mengerjakan proyek ini. "Ketika saya mempelajari mengenai kesehatannya, saya kira karena ia terlalu banyak kerja. Dan saya tahu bahwa ada yang tidak beres dengan kesehatannya," kata Hwang seperti dikutip Koreatimes beberapa waktu lalu.Tidak tanggung-tanggung, tiga tumor bersarang di otak Yuda. Hwang dengan segera menangani Yuda. "Kami mengkhawatirkan tumor mengancam hidup Yuda, seorang ilmuwan muda yang cerdas. Meski begitu ia tidak berubah pikiran. Ia berencana menjalani operasi di Korea dan menyelesaikan studinya," tambah Hwang.Hwang kemudian mendatangkan tim medis terbaik yang diketuai seorang profesor dari SNU, Ahn Cu-rie. Tim medis ini mengoperasi Yuda selama 13 jam pada bulan September 2004. "Tumor yang diderita Yuda termasuk tumor jinak. Tapi karena berada di daerah otak, maka ini merupakan operasi yang sangat berbahaya," kata Ahn Cu-rie.Hwang mengurus semua keperluan Yuda saat operasi di RS itu. Meskipun tergolong keras, namun Hwang memang dikenal sangat murah hati. Menurut staf medis, Hwang juga membantu sebagian besar biaya rumah sakit.Operasi terbukti sukses dan sekitar dua minggu kemudian, Yuda dapat kembali bekerja meski dilarang oleh Hwang. "Saya sudah merasa sehat dan tidak ada alasan istirahat di rumah," tutur Yuda.Sepertinya, kebiasaan kerja keras Hwang menular pada Yuda. Wajar saja. Yuda menganggap Hwang sebagai ayah Koreanya. Dan Yuda juga berencana akan menularkan etos kerja keras Hwang kepada mahasiswanya di Indonesia nanti. "Hwang tidak pernah membuat saya merasa asing. Ia adalah ayah bagi saya di Korea karena ia memperlakukan saya seperti anaknya ketika saya sakit," tambah Yuda yang berniat kembali ke Indonesia tahun 2006 nanti.Yuda sangat bersyukur bisa sembuh dari serangan kanker otak itu. "Saya dioperasi selama 13 jam. Kepala saya dibuka. Sewaktu saya operasi, saya bisa lihat otak saya lewat layar monitor. Tapi kalau lihat sekarang, pasti nggak akan nyangka kalau pernah dioperasi," kata Yuda.Menurut Yuda, selama di Indonesia, dirinya belum pernah memiliki keluhan soal otaknya itu. Namun, tiba-tiba gejala kanker otak terjadi di Korea di saat tengah menjalani proyek kloning anjing itu."Saya tidak tahu, mengapa gejalanya pas timbul di Korea. Mungkin, wahyunya memang di Korea, jadi tumornya ketahuannya di Korea juga, saya juga dapat obat di Korea. Kloning ya di Korea. Mungkin ini rezeki dari Yang di Atas sana," kata Yuda.Setelah sembuh dari kanker otaknya, Yuda dan 10 peneliti lainnya terus melanjutkan uji coba laboratorium untuk proyek kloning anjing itu. Usaha keras para peneliti ini pun mendapat hasil yang optimal. Mereka berhasil mengkloning anjing untuk pertama kalinya di dunia. Nama Yuda pun masuk dalam tinta emas jurnal Nature, jurnal ilmiah paling populer di dunia. (asy/)


Berita Terkait