Bruk...., Gatotkaca eh..Penerjun Payung Hinggap di Atap
Rabu, 24 Agu 2005 13:52 WIB
Yogyakarta - Cerita yang satu ini tersisa dari perayaan 17-an tempo hari. Di Kota Yogyakarta, pesta tahunan itu dirayakan dengan peragaan terjun payung. Apesnya tak semua mendarat mulus, satu penerjun jatuh menimpa atap rumah penduduk. Kini, si-empunya rumah bingung meminta pertanggungjawaban.Selasa, 16 Agustus 2005 pukul 10:30 WIB, adalah hari apes bagi Waluyo Sejati. Penduduk Nyutran, Yogyakarta ini sedang rehat sejenak di kamarnya. Maklum, malamnya ia harus bersiap untuk begadang semalaman (lek-lekan), menyambut HUT ke-60 RI. Hal yang rutin dilakukan di kampung saban tahun.Sewaktu mata baru kliyep-kliyep, dentam suara berisik tiba-tiba datang dari atap di belakang rumah. "Wah masak sih, siang-siang ada kiriman (santet-red)," pikirnya waktu itu. Tak urung meski kesal, Waluyo beranjak dari pembaringan. Apalagi persis di luar rumahnya tiba-tiba gaduh oleh anak-anak SD.Bergegas ke belakang, barulah Waluyo terkejut. Seseorang ternyata jatuh dari langit, menjebol genting dan nyangkut persis di atas sumurnya. Jelas ini bukan Mas Gatotkaca! Yang jatuh seorang penerjun payung. Si penerjun tengah tersipu sembari meringis kesakitan.Insting menolong Waluyo pun keluar. Refleks, ia membantu si penerjun untuk lepas dari jeratan temali payung dan juga himpitan genting. Begitu lolos, dengan muka merah, si penerjun berucap terimakasih ala kadarnya, si penerjun lari menuju alun-alun utara Kota Yogyakarta.Rupanya, penerjun itu meleset dari sasaran saat berlatih. Mungkin juga grogi. Soalnya, keesokan harinya ia menjadi bagian dari tim yang mendapat tugas berat mengibarkan bendera putih raksasa di angkasa Yogyakarta. Apalagi event itu akan siap dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).Urusan misi suci penerjun, itu urusan lain. Yang jelas, Waluyo ganti yang ketiban pulung. Setidaknya atap yang jebol perlu ditambal. Bisa Rp 1 juta habis untuk mempermaknya. Sialnya, tak ada pihak yang siap mengganti kerugian, apalagi ucapan maaf resmi, baik dari si penerjun, panitia 17-an atau Pemkot Yogyakarta. Tak betah juga Waluyo dengan suasana tersebut. Ia pun mengutus anaknya untuk menulis surat pembaca di media lokal Yogyakarta yang dimuat hari ini, Rabu (24/8/2005). Hasilnya langsung tersambut. "Sore ini akan ada yang datang untuk mengurus kerugian," kata Berkah Mangku, putra Pak Waluyo. Tentunya bukan dari Mas Gatotkaca!
(tbs/)











































