Pengacara Meliana Sesalkan Alasan Hakim Penjarakan Pengkritik Azan

Pengacara Meliana Sesalkan Alasan Hakim Penjarakan Pengkritik Azan

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 31 Okt 2018 16:23 WIB
Meliana saat pembacaan vonis di PN Medan (Foto: ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Meliana saat pembacaan vonis di PN Medan (Foto: ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Medan - Pengadilan Tinggi (PT) Medan membeberkan alasan tetap menghukum pengkritik azan Meliana selama 18 bulan penjara. Tim pengacara menyesalkan alasan itu karena dinilai tidak objektif.

"Kami menyesalkan majelis hakim bahkan tidak mempertimbangkan minimnya bukti Meliana melakukan apa yang dituduhkan," kata pengacara Meliana, Ranto Sibarani saat dihubungi detikcom, Rabu (31/10/2018).

Menurut Ranto, majelis hakim ternyata lebih mempertimbangkan keyakinan hakim untuk tetap menahan Meliana atau tidak menangguhkan penahanan Meliana. Padahal majelis hakim sangat mungkin menangguhkan penahanan Meliana sampai ada putusan inkraacht.

"Daripada mempertimbangkan fakta objektif bahwa Meliana tidak mungkin melakukan mengulangi perbuatan yg dituduhkan tersebut, tidak mempertimbangkan bahwa Meliana adalah ibu rumah tangga, dan tidak mempertimbangkan bahwa Meliana tidak mungkin melarikan diri, menghilangkan barang bukti," papar Ranto.

Majelis hakim banding juga dinilai tidak mempertimbangkan Meliana tak akan mungkin dituduh melakukan perbuatan yang dituduhkan tersebut jika massa tidak menyatroni, melempari dan membakar rumah Meliana. Bahkan mengusir Meliana dengan ancaman tidak menjamin keselamatan Meliana.

"Meliana sudah setuju akan melakukan upaya hukum kasasi," cetus Ranto.

Sebagaimana diketahui, Meliana mengkritik volume azan karena terlalu keras pada Juni 2016. Rumah Meliana dirusak oleh massa dan Vihara dibakar.

Belakangan, jaksa menuntut Meliana 18 bulan penjara dan diamini oleh PN Medan pada 21 Agustus 2018. Atas hal itu, Meliana banding tapi ditolak.
Vonis itu diketok pada 22 Oktober 2018 oleh ketua majelis Daliun Sailan dengan anggota Prasetyo Ibnu Asmara dan Ahmad Ardianda Patria. Meliana dinilai melanggar Pasal 156 KUH, dengan perbuatan mengucapkan kata-kata:

Lu..ya..lu...ya. Kita sudah sama-sama dewasa, ini negara hukum, itu masjid bikin telinga gua pekak, sakit kuping, hari-hari ribut, pagi ribut, siang ribut, malam ribut, bikin gua tidak tenang.

Hal itu dikatakan Meliana sambil telunjuk tangannya menunjuk muka Pak Haris Tua Marpaung, Kasidik, saksi Dailami, saksi Haris Tua Marpaung alias Pak Lobe, dan saksi Zul Sambas.


Simak Juga 'Aksi Malam Solidaritas untuk Meliana':


(asp/rvk)