Pengalaman Pembaca
Kacaunya Pengalihan Jalur Bus..
Rabu, 24 Agu 2005 12:07 WIB
Jakarta - Sejumlah pembaca detikcom dibuat lintang pukang gara-gara pengalihan 12 rute bus yang kurang sosialisasi. Misalnya cerita Dhiyah Anggreini yang berkantor di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.Dhiyah saban hari menumpang PPD PAC 15 jurusan Depok-Kota bertarif Rp 3.500. Bus itu kebetulan lewat Thamrin."Pagi ini saya cukup kaget dengan pengalihan rute bus yang sepertinya kurang dikomunikasikan kepada awak bus. Baik sopir maupun kernet bus mengatakan jurusan Depok-Kota mulai hari ini hanya sampai Karet, selanjutnya penumpang dapat naik busway, yang karcisnya akan dibagikan oleh pihak DLLAJ," papar Dhiyah pada detikcom lewat e-mail, Rabu (23/8/2005).Namun kenyataannya, sambung Dhiyah, bus yang ditumpanginya dibelokkan ke arah Casablanca dan balik ke Depok. "Kami para penumpang kebingungan dan terpaksa menuju halte busway. Di sana kami harus membeli karcis," urainya.Beberapa penumpang kebingungan karena sebelumnya diinformasikan kalau busway akan gratis. "Saya pribadi menyayangkan hal tersebut karena para awak bus kota sebelumnya tidak dibriefing sehingga memberikan informasi yang salah ke penumpang," sesal Dhiyah .Aria Tasnim Arsj juga jadi korban. Dia biasanya menumpang bus PAC 10 jurusan Kota-Kampung Rambutan, naik dari Jalan MH Thamrin dan turun di Cawang. Kini bus ini hanya melayani Kampung Rambutan-Karet. "Jika memang harus memotong rute sebaiknya biayanya juga harus dipotong sampai 50%," kritiknya. Sedangkan Dwi Cahyadi, pegawai BAPETEN, kesal karena pengeluaran transportasinya melonjak. "Setiap harinya ongkos transpor saya bakal naik hingga Rp 5.000. Kalau sebulan ya hitung saja sendiri," keluh pengguna Mayasari Patas 18 B jurusan Ciputat- Pasar Baru. Bus bercat hijau itu kini jalurnya diperpendek hanya sampai Karet. "Toh kalau alasannya untuk membuat jalur Sudirman lebih lancar kenapa harus bus reguler yang dikurangi. Jumlahnya tidak sampai hitungan jari. Yang bikin macet menurut saya mobil pribadi, sepeda motor dan rombongan presiden," protesnya.
(nrl/)











































