Di Bumi Reog, MPR Sosialisasikan Empat Pilar Lewat Wayang Kulit

Tia Reisha - detikNews
Selasa, 30 Okt 2018 12:00 WIB
Foto: Dok. MPR
Foto: Dok. MPR
Ponorogo - Biasanya masyarakat di Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur menonton pertunjukan Reog. Namun kali ini mereka mendapat suguhan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto.

Pertunjukan wayang kulit ini diselenggarakan di Lapangan Monument Bantarangin pada Minggu (28/10/2018) dengan mengangkat lakon 'Bimo Labuh'. Pertunjukan ini pun merupakan bagian dari seni dan budaya masyarakat Jawa.

Karena itu, tidak heran jika pentas itu dibanjiri para penggemar wayang yang datang tak hanya dari desa Sumoroto namun dari daerah lain seperti Kabupaten Pacitan, Madiun, Magetan, dan Wonogiri.

Pertunjukan wayang biasanya digelar untuk acara ritual bersih desa, hajatan pernikahan, syukuran, memperingati hari jadi kota, bahkan tolak bala. Namun kali ini, pertunjukan tersebut digelar untuk menyosialisasikan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, atau yang lebih popular disebut Empat Pilar MPR.

Sebelum pentas dimulai, di hadapan undangan dan ribuan penonton, Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah menuturkan seni budaya nusantara banyak mengandung tuntunan. "Banyak tuntunan lewat tontonan," ucap Siti dalam keterangan tertulis, Selasa (30/10/2018).

Menurutnya, alasan inilah yang membuat MPR menggunakan wayang kulit sebagai media untuk menyosialisasikan Empat Pilar sebagai salah satu metode dari puluhan metode yang lain. Ia pun berharap pertunjukan itu bisa dinikmati masyarakat dan selanjutnya pesan-pesan yang disampaikan dapat diimplementasikan dalam keseharian.


Dalam kesempatan yang sama, anggota MPR dari Fraksi Demokrat Edhy Baskoro Yudhoyono mengungkapkan bahwa ia ke Ponorogo bukan hanya untuk bersilaturahim dengan masyarakat tapi juga bertugas melakukan Sosialisasi Empat Pilar. Sebab bagi pria yang akrab dipanggil Ibas tersebut, sosialisasi sangat penting untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia pun mengakui kunjungannya ke Ponorogo bukanlah yang pertama kali. "Saya sering ke Kota Reog," ungkapnya.

Di samping itu, ia juga menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara besar yang memiliki penduduk mencapai 260 juta jiwa. Wilayahnya pun terbentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Ia lantas berharap kebesaran dan keragaman inilah yang dapat menjadi kebanggaan tersendiri.

"Harus bangga hari ini kita masih tegak berdiri sebagai bangsa," ujar Ibas.

Ia pun mengajak semua yang hadir terus menjaga kebersamaan dan persatuan dalam bingkai Empat Pilar MPR. "Agar kita tidak terpecah belah, tetap menjadi bangsa yang damai, bersatu, dan bergerak maju demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama," tegasnya.

Terkait dengan sosialisasi dengan metode seni dan budaya, Ibas mengajak penonton untuk mendengarkan dan mencerna cerita, filosofi, serta motivasi yang disampaikan lewat lakon Bimo Labuh.

"Melalui metode ini, saya mengajak mengimplementasikan Empat Pilar dalam keseharian," kata Ibas.

Ia menjelaskan lakon dalam pentas ini mengisahkan Raja Astina, Bimo Labuh, yang juga dikenal sebagai Brotoseno, sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Menurut Ibas, tokoh ini rela berkoban demi kepentingan rakyat dan kebenaran. Seandainya harus kehilangan tahta, menurutnya, Bimo tidak akan mengeluh, bahkan selalu berupaya dan memastikan rakyatnya hidup sejahtera.


Caranya, dengan memberi bantuan, memberikan program pembangunan, memberikan penyuluhan, dan tentunya mengajak rakyat lebih optimistis dalam menghadapi kehidupan. Dari singkat cerita itu, Bimo Labuh dianggap sesuai dengan karakter yang terkandung dalam nilai-nilai Empat Pilar.

Cucu Sarwo Edy Wibowo itu juga mengatakan sosialisasi di Monumen Bantarangin itu sangat istimewa sebab di tempat tersebut pernah ada Kerajaan Bantarangin dengan Raja Klono Sewandono. Kerajaan ini merupakan cikal bakal Ponorogo dan kesenian reog.

"Tak heran bila monumen ini dikenal sebagai kota lama Ponorogo," ujar Ibas.

Hal itu pun membuat ia mendukung rencana Pemda Ponorogo yang ingin memiliki Kampung Reog dan Kampung Batik pada 2019. Hal ini bertujuan agar Ponorogo tak hanya menjadi tujuan wisata namun juga sebagai upaya melestarikan budaya leluhur.

"Kalau ingin reog tidak mau dicuri negara lain, mari lestarikan bersama," ajak Ibas.

Menurutnya, reog telah menjadi kebanggaan Indonesia dan termasuk salah satu budaya yang sangat penting di dunia. "Maka harus kita jaga," pungkasnya.

Sementara itu, pertunjukan ini juga dihadiri oleh anggota MPR dari Fraksi Demokrat Edhy Baskoro Yudhoyono, Guntur Sasono, dan Sartono Hutomo. Ada juga Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah, Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antarlembaga dan Layanan Informasi Humas MPR Muhammad Jaya. Sedang dari pihak tuan rumah ada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ponorogo Lilik yang sekaligus mewakili Bupati Ponorogo, dan Camat Kauman Joko Waskito. (idr/idr)