Menurut Gustika, studi perang tak hanya melulu dipelajari oleh kaum pria. Sebab korban perang tak hanya kaum pria, tetapi ada perempuan dan anak-anak juga. "Jadi tak ada gender, (studi perang) tak harus identik dengan laki-laki," kata Gustika saat sesi wawancara khusus dengan detikcom yang tayang Minggu, 28 Oktober 2018.
Materi perkuliahan yang dipelajari di jurusan ini antara lain sejarah, strategi militer dan hubungan internasional. "Kalau saya ambilnya yang lebih ke hubungan internasional," paparnya.
Selain itu, soal perang gerilya juga diajarkan. Sayangnya, kata Gustika, rujukan yang digunakan dalam mata pelajaran itu adalah perang gerilya di dunia barat.
Padahal Indonesia juga memiliki pengamalan tentang perang gerilya. Bahkan Jenderal Sudirman dan Jenderal AH Nasution diakui sebagai tokoh perang gerilya yang sukses.
Jenderal Besar AH Nasution menuangkan dasar-dasar perang gerilya dalam buku "Pokok-pokok Gerilya". Buku ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, salah satunya berjudul Fundamentals of Guerrilla Warfare.
Di sejumlah negara, buku Pak Nas, -begitu biasa AH Nasution dipanggil-, menjadi buku wajib akademi militer. Termasuk di West Point, Amerika Serikat, sekolah elite militer dunia.
[Gambas:Video 20detik] (erd/jat)











































