DetikNews
Minggu 28 Oktober 2018, 12:55 WIB

Melihat Meriahnya Pemilihan Duta Tuna Rungu Denpasar

Aditya Mardiastuti - detikNews
Melihat Meriahnya Pemilihan Duta Tuna Rungu Denpasar Pemilihan Duta Tuna Rungu (adit/detikcom)
Denpasar - Pemerintah Kota Denpasar, Bali baru saja menggelar pemilihan putra-putri tuna rungu 2018. Pemilihan duta ini rupanya membawa misi sosial bagi komunitas tuna rungu.

Acara pemilihan itu digelar di sela Denpasar Teknologi Informasi dan Komunikasi (DTIK) Festival 2018, di Taman Lumintang, Denpasar, Bali pada Jumat (26/10) kemarin. Pemilihan itu berlangsung meriah dan dihibur dari komunitas tuna rungu maupun disabilitas lainnya.

Banyak di antara penonton yang datang di acara tersebut menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Mereka tampak semringah ketika menyemangati jagoan maupun teman mereka saat unjuk kebolehan.

Untuk mempermudahkan komunikasi, obrolan yang disampaikan oleh MC hingga para peserta pun diterjemahkan oleh penerjemah bahasa isyarat di sisi kanan maupun kiri panggung. Tepukan tangan meriah pun diganti dengan gestur isyarat.

"Jadi kami ingin memberikan ruang. Mulanya karena sering melaksanakan hari disabilitas nasional setiap Desember setiap tahun kami bikin drama musikal, dari situ kami kan harus turun cari bakat anak-anak untuk kita tampilkan ke depannya. Dibantu seniman anak-anak tuna netra, tuli, di situ mereka punya bakat lumayan, kalau tidak diberi ruang mana masyarakat tahu," kata Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar Ida Ayu Selly Fajarini Mantra.

Selly menambahkan sejak digelar pada 2013 lalu, jumlah peserta pemilihan putra-putri tuna rungu ini semakin meningkat tiap tahunnya. Selain itu, kegiatan ini mampu mengurangi stigma negatif para penyandang tuna rungu di lingkungan keluarganya.

"Setelah mereka kita berikan ruang, mereka mampu dan yang membuat saya puas ketika orang tua mereka bangga. Mungkin sebelumnya ada yang disembunyikan, mengganggap disabilitas ini suatu musibah tapi dari situ mereka tampil, percaya diri dan orang tua melihat itu bangga sekali dengan anaknya, mereka bisa memperlihatkan kelebihan mereka," terangnya.

Selly menyebut para peserta pemilihan putra-putri tuna rungu ini juga memiliki keterampilan yang luar biasa. Banyak di antara mereka bisa menari dengan gemulai tanpa iringan musik hingga para alumnus putra-putri tuli yang sudah menjadi model profesional.

"Jadi mereka ini punya komunitas sendiri, mereka juga punya persatuan orang tua disabilitas. Mereka bikin sanggar, juga ada beberapa keterampilan anak-anak, di Pemkot juga kita libatkan, banyak juga yang sudah bekerja di beberapa OPD Pemkot," terangnya.

Selly menambahkan acara ini juga digelar dengan menggandeng mantan Mister Deaf Asia 2012 Gede Ade Putra Wirawan. Ade pun ditunjuk menjadi Ketua Pelaksana Kegiatan Pemilihan Putra-Putri Tuli. Pendiri Bali Deaf Community itu berharap para duta tuli ini mampu menyosialisasikan bahasa isyarat dan budaya tuli khususnya di Bali.

"Harapannya untuk pemenang putra-putri ini tujuannya menjadi duta sosialisasi bahasa isyarat dan identitas budaya tuli, serta memperjuangkan perbedaan tuna rungu dan tuli. Sekaligus menarik masyarakat agar tertarik belajar bahasa isyarat dan bisa berkomunikasi, khususnya kota Denpasar, kota inklusi bisa mendukung disabilitas Bali, masyarakat bisa melihat pemerintah juga bisa mendukung kegiatan disabilitas dan bisa setara," kata Ade yang diterjemahkan Juru Bahasa Isyarat Tya.

Ade menyebut selama ini teman-temannya di komunitas tuna rungu masih kesulitan mendapatkan ruang untuk mengekspresikan talentanya. Sehingga lewat acara ini dia berharap masyarakat bisa mengenal lebih dekat komunitas tuna rungu ini.

"Sebelumnya saya tahun 2012 Mister Deaf Asia, Top 5 Mister Deaf Internasional dan Mister Deaf Congeniality atau Mister Persahabatan. Dari situ sadar jadi ada motivasi, di Bali pengajarannya masih kurang, kerja belum bisa, aksesnya belum. Dari situ saya mendirikan Bali Deaf Community, dan kegiatan yang bisa menampilkan teman-teman tuli ke ranah umum. Jadi hubungan antarmanusianya lebih bagus," terang warga Banjar Kaja Sesetan itu.

Apalagi sebagai aktivis tuna rungu, Ade juga pernah mengalami masa-masa minder. Dia juga tidak suka mendapat belas kasihan orang, padahal Ade merasa mampu.

"Minder perah mengalami, kedua hambatan oral, karena nggak bisa dengar jadi gimana caranya, kemudian hambatan kerja. Masyarakat kok kasihan, kok tuli, jadi minder, (mereka) belum mikir tuli dan dengar itu setara. Kemudian saya melihat ada tuli yang sukses, kemudian saya copy cara sukses dan motivasinya dan sadar," ucapnya.

Meski begitu, Ade mengatakan Denpasar merupakan salah satu kota yang sudah ramah tuna rungu. Kehadiran juru bicara bahasa isyarat (JBI) dari komunitas dirasa sangat membantu teman-temannya yang kesulitas mengakses fasilitas publik.

"Sekarang ini Kota Denpasar sudah mulai proses (inklusi) tapi sudah ada sosialisasi bahasa isyarat dan ada akses temen-temen tuli, salah satunya (lewat) juru bicara bahasa isyarat (jadi) menemukan relawan untuk berkomunikasi. JBI ini bisa membantu berkomunikasi, kalau temen tuli sakit bisa dibantu JBI untuk menerjemahkan, untuk workshop, seminar, dll. Jadi semua masyarakat sadar, 'Oh perlu ya', tapi masalahnya JBI masih kurang, dia berjuang sosialisasi temen-temen yang lain bisa tertarik ada kursus bahasa isyarat," urainya.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed