Rektor IPB Minta Pemuda Contoh Semangat Mahathir Mohamad

Nur Azizah Rizqi - detikNews
Sabtu, 27 Okt 2018 13:27 WIB
Rektor IPB Arif Satria (Foto: Nur Azizah/detikcom)
Bogor - Insitut Pertanian Bogor (IPB) mendorong para pemuda untuk menjadi pengusaha di bidang agromaritim. Pasalnya bidang pertanian dan kemaritiman dianggap sangat penting bagi Indonesia.

"Ini momentum, karena ini Sumpah Pemuda, maka IPB punya tanggung jawab besar. Ini momentum untuk terus menggelorakan bahwa pemuda tani, pemuda agromaritim itu, ini adalah harapan masa depan," kata Rektor IPB Arif Satria di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Sabtu (27/10/2018).

Arif mendorong pemuda menjadi pengusaha yang berbasis teknologi dan sosial, atau yang ia sebut techno and sociopreneur. Mereka diharapkan mampu mendorong dan mengembangkan inovasi-inovasi dalam konteks bisnis dan pengembangan masyarakat untuk memfasilitasi petani-petani yang ada di Indonesia.
"Kita harus sudah mulai memikirkan agar mampu menciptakan pelaku-pelaku yang tangguh dalam bidang agromaritim. Itulah solusi yang paling konkret untuk menjawab kebutuhan, karena ke depan yang dibutuhkan adalah kita menghasilkan produk-produk yang efisien, berdaya saing, ramah lingkungan, tidak melanggar HAM dalam proses produksinya, produk-produk yang halal," ujar Arif.

"Itu semua membutuhkan pendekatan-pendekatan baru, teknologi baru, sehingga pelaku-pelaku baru yang muda-muda dapat menghasilkan produk-produk seperti itu. Kalau itu bisa dihasilkan oleh para pemuda, insya Allah Indonesia ini akan terhindar dari krisis," imbuhnya.

Arif juga sempat menyinggung usia PM Malaysia Mahathir Mohammad. Awalnya, ia menyebut bahwa pemuda harus berpikiran visioner dan berani melakukan perubahan yang berbeda dari bangsa lain.

"Orang yang umurnya 50-60 tahun, bukan otomatis orang tua. Dia akan jadi orang tua kalau berpikir masa lalu. Tapi kalau usianya itu seperti Mahathir tapi berpikir masa depan, itu artinya Mahathir orang muda," tuturnya.
Lebih lanjut, Arif juga membicarakan bonus demografi yang akan diperoleh Indonesia pada tahun 2030 mendatang. Ia mengajak para pemuda untuk mempersiapkan dengan matang agar bonus demografi 2030 tidak malah menjadi beban negara.

"Karena kita pemilik masa depan, maka masa depan harus kita rancang. Ini penting bagi kita apalagi menyambut bonus demografi 2030. Orang-orang yang ada di 2030 adalah orang-orang yang siap menjadi tokoh perubahan. Semoga hari ini kita sudah mulai memikirkan bagaimana pemuda agromaritim bisa sukses di 2030. Kita sambut masa depan pemuda sebagai pemilik masa depan," pungkasnya. (jbr/fdn)