JK: Hampir Semua Parpol Sekarang Nasionalis-Religius

JK: Hampir Semua Parpol Sekarang Nasionalis-Religius

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Kamis, 25 Okt 2018 13:58 WIB
JK: Hampir Semua Parpol Sekarang Nasionalis-Religius
Wapres Jusuf Kalla (Noval Dhwinuari Antony/detikcom)
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai Pemilu 2019 akan lebih baik, bahkan bila dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Salah satu penyebabnya karena hampir tidak ada perbedaan ideologis antar parpol saat ini.

"Jadi pemilu di Indonesia relatif lebih baik tentunya dibanding, tentunya tidak semua, (tapi) di banyak negara di Asia ini. Tidak pernah ada konflik apa-apa selama pemilu kita," kata JK dalam pidato pembekalan peserta PPRA LVIII dan Alumni PPRA LVIII tahun 2018 Lemhannas RI di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018).

JK setuju dengan adanya ambang batas parlemen untuk para partai politik saat ini. Namun, dengan pembatasan tersebut, banyak orang yang pindah ke partai politik lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa banyak perpindahan orang ke partai A partai B, karena merasa walaupun dia pengurus partai A, belum tentu lulus 4 persen. Jadi lebih baik pindah saja ke partai yang lebih besar yang bisa masuk, itu trennya. Jadi kenapa banyak kayak pemain bola ada transfer macam-macam, karena ingin masuk ke partai yang mereka yakin bisa lewat 4 persen. Itu efeknya, jadi terjadi pergeseran-pergeseran," jelasnya.

JK mengatakan saat ini hampir semua partai politik tidak memiliki perbedaan ideologis. Berbeda dengan zaman dulu, ketika partai politik sangat identik dengan ideologi partai.

"Zamannya Bung Karno ada Nasakom: nasional, agama, komunis. Sekarang hampir semuanya jadi nasional-religius. Partai nasional Golkar-PDIP kadang-kadang lebih duluan Isra Mikraj dibanding dengan PPP, contohnya. Atau PPP lebih duluan, atau partai agama (Islam) lebih duluan Natal di Manado dibandingkan partai nasional," ujarnya.





Saat ini tidak ada lagi batas ideologi di antara partai politik. Yang ada adalah kinerja partai politik setelah pemilu, yang menjadi penilaian masyarakat.

"Kalau bicara tentang masalah-masalah di partai semua sama. Hampir semua partai sekarang ada 4 ketum partai ada di penjara. Apakah partai nasional, partai agama ada di penjara. Bayangkan itu, jadi tak ada bedanya," tuturnya.

JK menilai perilaku dan ideologi kader partai politik saat ini hampir sama semua. Dengan demikian, masyarakat memilihnya berdasarkan rekam jejak para kader parpol di parlemen. Politik pun akhirnya tergantung siapa parpol yang kuat dan kadernya dapat menarik massa sebanyak mungkin.




"Siapa yang punya banyak TV itu sangat berpengaruh. Setelah itu, semua partai punya pasukan siber. Itu yang mempengaruhi kemudian orang," ungkapnya.

"Atau kalau sudah mandek, pokoknya mempengaruhi KPU dan sebagainya. Jadi sudah segala macam ilmu termasuk di partai sekarang ini, baik ilmu putih, ilmu hitam, semua sudah ada," kelakar JK.



Saksikan juga video '9 Sekjen Parpol Rapat Bahas Strategi Pemenangan Jokowi-Ma'ruf':

[Gambas:Video 20detik]

(nvl/fdn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads