Lalu dia menyitir perkataan Halide Edib Hanum bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini 'bukan lagi pemimpin hidup, tetapi agama pakral-bambu'. Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin, tetapi hendaklah kita insaf, bahwa banyak di kalangan kita yang Islam-nya masih Islam sontoloyo!"
'Islam sontoloyo' itulah yang kemudian menjadi judul buku kumpulan pemikiran pembaruan Sukarno tentang Islam yang diterbitkan Sega Arsy, Bandung, pada 2010. Total isi buku tersebut dibagi menjadi 11 bab, yang antara lain mengupas pemikiran Sukarno soal keberadaan tabir (pemisah) pria dan wanita dalam suatu pertemuan, masalah transfusi darah yang dianggap haram oleh golongan Islam kolot saat itu, hingga pemisahan antara urusan agama dan dunia di Turki pada masa Kemal Attaturk.
Sukarno juga menyoroti perilaku para pemuka agama yang dianggapnya berbuat sewenang-wenang dengan mengatasnamakan Alquran, hadis, dan ilmu fikih yang ditelan mentah-mentah tanpa interpretasi yang luas. Sukarno mengkritik para pemuka dan tokoh agama Islam kala itu yang gampang memberi label 'kafir' kepada sesamanya hanya karena beda pendapat. Juga menganggap bid'ah terhadap segala hal yang berbau modern untuk kemajuan.
Pada Mei lalu, pendiri Partai Amanat Nasional, Amien Rais, juga pernah melontarkan kata 'sontoloyo'. Ia menyampaikannya seusai pengajian di alun-alun Banjarnegara. Menurut Amien, pemimpin yang tidak memikirkan rakyat tetapi menjadi agen kekuatan asing adalah pemimpin sontoloyo.
"Bung Karno dulu mengatakan kalau ada pemimpin yang tidak memikirkan rakyatnya malah menjadi agen kekuatan tenaga asing itu pemimpin sontoloyo. Jadi kan yang sontoloyo itu siapa," kata Amien kepada wartawan, Minggu (6/5/2018).
Seketika, para politikus di kubu koalisi pemerintah mengecam pernyataan Amien. Ketika kemarin Jokowi menyebut kata 'politikus sontoloyo', apakah maknanya sama seperti yang pernah diungkapkan Amien Rais?
Di ICE BSD, Tangerang, Banten, Presiden Jokowi secara lebih detail menjelaskan politikus sontoloyo yang ia maksud adalah mereka yang lebih mengedepankan adu domba, pecah belah, dan kebencian.
Jokowi ingin kampanye pemilu ke depan dilakukan dengan adu program, kontestasi program dan gagasan, serta adu prestasi. "Kalau masih pakai cara-cara lama seperti politik kebencian, politik adu domba, pecah belah, itu namanya politik sontoloyo." (jat/jat)











































