DetikNews
Selasa 23 Oktober 2018, 21:31 WIB

Sandiaga, di Antara Klaim Gila Data dan Percaya Warga

Audrey Santoso, Indra Komara - detikNews
Sandiaga, di Antara Klaim Gila Data dan Percaya Warga Sandiaga Uno (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Saat berkampanye, cawapres Sandiaga Uno kerap berbicara tentang keadaan ekonomi yang kadang kala dibuat perbandingannya. Sandiaga menepis anggapan dirinya berbicara tanpa data.

"Saya ini pebisnis dulu, I'm crazy about data, I'm really really crazy. Saya punya big data analytics team, yang kerjanya menganalisis data. Nggak mungkin saya bicara tanpa data," kata Sandiaga di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018).

Bagi Sandiaga, yang lama sebagai pengusaha, data sangatlah penting. Tujuannya agar usaha bisa berkembang.

"Saya bangun bisnis semua pakai data, saya bangun usaha konsultasi, UMKM sukses, itu berdasarkan data. Di DKI kemarin semua teman tahu sendiri Jakarta Smart City tiba-tiba jadi referensi untuk segala kebijakan yang kami ambil karena kita semua berdasarkan data," terang dia.






Saat bertemu dengan masyarakat, Sandiaga menyebut kondisi ekonomi harus menjadi perhatian serius. Sandiaga berbicara tentang lapangan kerja yang masuk level pesimistis, termasuk kenaikan harga pangan, yang juga disokong data.

"Dan memang pekerjaan susah, itu terbukti data BI indeks ketersediaan lapangan kerja untuk S1 ke bawah masuk ke level pesimis. Harga-harga naik, betul itu diperlihatkan dolar naik, ya harga-harga juga pasti naik," jelasnya.

Tapi sebelumnya Sandiaga bicara soal kepercayaannya terhadap masyarakat. Konteksnya, Sandiaga membandingkan data klaim kesuksesan pemerintah dengan suara masyarakat sebenarnya.

Sandiaga menuturkan ketidakcocokan data keberhasilan pemerintah dengan yang dialami masyarakat menunjukkan adanya 'jarak' antara pemerintah dan warganya.

"Saya turun ke masyarakat. Saya tanya ke pasar, turun ke milenial, dan itu nggak direkayasa. Saya tanya 'cari kerja susah atau gampang?', (dijawab), 'susah'. 'Harga-harga turun atau naik?', (dijawab) 'naik'. Silakan saja pemerintah meng-counter dengan data-data," kata Sandiaga di Jalan Jenggala Nomor 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (21/10).





"Tapi itu menunjukkan jarak antara pemerintah dan masyarakat, semakin terlihat jaraknya. Pemerintah bermain dengan data-data, masyarakat merasakannya di bawah," sambung Sandi.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini mengaku lebih fokus mendengarkan aspirasi masyarakat dibanding meyakini data-data.

"Saya fokus ke masyarakat karena nanti yang menentukan pilihan masyarakat, dan mereka tidak akan bilang data. Mereka akan membandingkan dengan kehidupan mereka empat tahun lalu, mereka lebih sejahtera atau tidak, tabungan lebih mudah atau tidak, nyari kerja lebih mudah atau susah, harga-harga naik apa turun, itu simpel saja," terang Sandiaga.

Tapi Sandiaga menuturkan tetap menghargai data yang dimiliki pemerintah. Namun dia tetap meyakini kondisi masyarakat berbeda dengan apa yang tertera di data.

"Saya apresiasi kalau ada data-data yang menunjukkan bahwa itu berbeda dengan masyarakat. Tapi yang dirasakan masyarakat berbeda jauh dengan data-data tersebut," tuturnya.
(fdn/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed