DetikNews
Selasa 23 Oktober 2018, 20:40 WIB

Di Balik Pro-Kontra Gestur Menunduk Pegawai KAI

Azizah Rizki - detikNews
Di Balik Pro-Kontra Gestur Menunduk Pegawai KAI Pegawai PT KAI menunduk saat kereta berangkat. (Azizah Rizki/detikcom)
Jakarta - Gestur menunduk yang dilakukan pegawai PT KAI sebagai bentuk penghormatan ternyata memunculkan pro dan kontra. Di balik kontroversi itu, ada cerita awal mula ide ini muncul hingga respons para penumpang kereta.

Gestur menunduk itu dilakukan porter, pegawai, hingga petinggi PT KAI saat kereta jarak jauh hendak berangkat. Seperti dilihat di Stasiun Gambir, Selasa (23/10/2018), tepat saat kereta berangkat, para porter berseragam paduan hijau dan hitam mulai menundukkan kepala dan sedikit mencondongkan badannya ke depan. Gestur penghormatan ini mereka lakukan selama satu menit hingga gerbong terakhir kereta selesai melintas.

Di jalur 1, selain porter yang memang sudah bersiaga di peron setelah melayani penumpang, petugas Stasiun Gambir turut bergabung untuk melakukan gestur penghormatan. Tampak Kepala Daops I Jakarta Dadan Rudiansyah, Senior Manager Humas Daops I Jakarta Edy Kuswoyo, dan Kepala Stasiun Gambir Rizki Afrida bergabung dalam barisan.



Porter di Stasiun Gambir kerap mendapat respons positif saat menunjukkan gestur hormat itu. Mereka mengaku kerap melihat penumpang merespons gerakan itu dengan senyum.

"Justru ketika kita penghormatan, dari dalam (kereta) ada yang manggut, ada yang senyum. Saya suka lihat begitu. Ada yang acungkan jempol, gitu," kata salah satu porter bernama Abdul Manan.

Pegawai PT KAI menunduk saat kereta berangkat / Pegawai PT KAI menunduk saat kereta berangkat. (Azizah Rizki/detikcom)

Baginya, gestur penghormatan itu ia lakukan dari hati sebagai bentuk penghargaan kepada penumpang. "Dari hati nurani, karena dengan cara seperti ini ya kita menunjukkan terima kasih sama penumpang," ujarnya.


Penumpang sendiri punya aneka pendapat soal gestur hormat ini. Penumpang bernama Atik Triana mengatakan gestur itu bukanlah sesuatu yang buruk. Menurutnya, gerakan petugas itu justru merupakan sesuatu yang sopan.

Tanggapan berbeda datang dari penumpang bernama Ike Rahmawati. Ike, yang baru turun dari KA Argo Parahyangan, justru menganggap gestur penghormatan itu tidak perlu dilakukan.

"Nggak usah sih sebenarnya. Ngapain gitu, lo. Maksudnya itu menghormati kita, gitu, kan? Nggak usahlah, ya. Nggak usah sampai membungkuk gitu maksudku, biasa saja," kata Ike.

Pegawai PT KAI menunduk saat kereta berangkat / Pegawai PT KAI menunduk saat kereta berangkat. (Azizah Rizki/detikcom)

Sebenarnya, dari mana munculnya ide gestur hormat para pegawai PT KAI ini? Kepala Daops I Jakarta Dadan Rudiansyah mengatakan gestur ini adalah bentuk penghormatan. Menurutnya, ini bukan wujud rendah diri para pegawai.

"Bukan merendahkan diri ya, kami justru dengan rendah hati kami memberikan ucapan terima kasih kepada pelanggan. Menurut saya, itu suatu hal yang wajar, ya," ujar Dadan.

"Ide awalnya, kami dari nilai perusahaan, kami harus melayani pelanggan dengan pelayanan prima tentunya. Terus kemudian ada inovasi-inovasi, ini adalah inovasi kami. Ini sebagai ucapan terima kasih, pelanggan sudah bersedia menggunakan jasa kereta api. Dari latar belakang tersebut, kami ingin memberikan sesuatu yang baik, ya dari hati kami yang tulus sebagai penghargaan, ucapan terima kasih kepada pelanggan yang sudah membuat perusahaan ini ada," jelasnya.



Di media sosial, beredar anggapan bahwa gestur menunduk dari pegawai PT KAI ini meniru budaya Jepang. Dadan menepisnya.

"Nggak, nggak. Saya pribadi yang mempunyai awal ide itu. Kita kalau menghormat kan gitu, membungkuk, ya. Ucapan terima kasih juga membungkuk. Ya, kan?" ucapnya.
(imk/bpn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed