Tim RI-GAM Bahas Pembentukan Komisi Pengaturan Militer
Senin, 22 Agu 2005 21:23 WIB
Banda Aceh - Pertemuan antara tim pemantau awal, perwakilan RI dan GAM untuk pertama kalinya digelar di Banda Aceh, Senin (22/8/2005) sore. Dalam pertemuan ini dibahas tentang pembentukan sebuah komisi yang akan melakukan pengaturan militer kedua belah pihak, implementasi MoU dan juga masalah keamanan.Demikian diutarakan Ketua tim pemantau awal dan Aceh Monitoring Mission (AMM) Pieter Feith dalam jumpa pers usai acara di gedung Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur NAD, Senin (22/8/2005). Selanjutnya, pertemuan seperti ini akan dilakukan dua kali dalam seminggu. "Saya sangat senang karena pertemuan pertama kali ini yang dihadiri oleh kedua belah pihak berjalan dengan sangat kondusif. Kedua belah pihak menyatakan siap berkomitmen untuk mematuhi butir-butir MoU," ujar Feith.Ditambahkannya, dalam pertemuan yang dipimpinnya itu, dia mengajukan permintaan agar semua tentara dan polisi di Aceh menunjukkan keprofesionalannya dengan menahan diri dan menghormati mantan musuh mereka. "Saya juga meminta kepada pemimpim GAM untuk mengendalikan penuh para tentara mereka untuk menghindari segala bentuk provokasi dan secara disiplin patuh pada peraturan dan instruksi saya," tegasnya.Jika hal ini dilaksanakan dengan baik, menurutnya, hal ini akan merupakan langkah awal dari sebuah mekanisme yang baik bagi kedua belah pihak untuk bekerja. Dalam pertemuan itu disebutkannya, mereka sepakat untuk tidak berbicara ke media tentang perbedaan dan juga hal-hal yang terjadi di lapangan untuk menghindari provokasi. Perbedaan atau temuan-temuan di lapangan nantinya akan didiskusikan terlebih dahulu oleh kedua belah pihak.Dalam pertemuan ini, selain Meneg Kominfo Sofyan A. Djalil, hadir juga Plt Gubernur NAD, Awar Abubakar, Pangdam Iskandar Muda Mayjen Supiadin AS, Kapolda NAD Irjen Pol Bachrumsyah Kasman, sebagai perwakilan pemerintah Indonesia. Sementara GAM, diwakilkan oleh Irwandi Yusuf.Selain Pieter Feith, sejumlah perwakilan Indonesia memberikan keterangan seputar pertemuan yang digelar sejak pukul 16.00 Wib sampai pukul 18.00 Wib itu. Sayangnya, informasi gagal didapat wartawan dari perwakilan GAM, Irwandi Yusuf. Pasalnya, pria yang juga mantan dosen Fakultas Kedokteran Hewan di Universitas Syiah Kuala ini meninggalkan lokasi ketika sejumlah wartawan melakukan jumpa pers bersama Pieter Feith.Pada masa darurat militer di Aceh, Irwandi Yusuf ditangkap di Jakarta dan divonis selama 7 tahun penjara. Irwandi disebut sebagai konseptor dan propaganda GAM dan sempat menjalani hukuman penjara di Lapas Kelas IIA, Banda Aceh. Pasca tsunami keberadaannya tidak diketahui karena penjara yang terletak di kawasan Keudah, Banda Aceh, luluh lantak diterjang tsunami. Kehadirannya mewakili GAM dalam pertemuan ini cukup mengagetkan wartawan. Dikatakan Pangdam Iskandar Muda, Supiadin AS, direncanakan perwakilan GAM akan dihadiri oleh tiga orang. Tapi menurut Irwandi seperti dituturkan Supiadin AS, satu temannya masih dalam perjalan dari Malaysia menuju Banda Aceh dan satu lagi masih di penjara. "Katanya dia sudah dibebaskan dan sekarang menjadi juru bicara dalam pertemuan seperti ini," terang Supiadin.
(san/)











































