DetikNews
Senin 22 Oktober 2018, 22:45 WIB

Kontroversi Politik 3M

Gibran Maulana Ibrahim, Arief Ikhsanudin - detikNews
Kontroversi Politik 3M Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Penilaian bahwa capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sulit mengejar elektabilitas Joko Widodo menjelang pilpres karena minus 3M jadi kontroversi. Gerindra menepis anggapan itu.

Pandangan itu dilontarkan founder LSI Denny JA. 3M yang dimaksud Denny JA adalah momentum, media, dan money alias logistik.

"Sulit bagi Prabowo mengejar Jokowi jika kekurangan '3M'," kata Denny JA kepada wartawan, Senin (22/10/2018).


Kubu Prabowo-Sandiaga tidak sependapat dengan anggapan itu. Waketum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan pemberitaan media akan menjadi poin meskipun tidak memihak kepada Prabowo.

"Misalnya waktu kemarin di sidang IMF Bali, apakah itu kemudian media yang berpihak kepada Pak Prabowo? Kan, bukan. Tapi kan masalah, antara lain, misalnya, soal Bu Sri Mulyani yang kemudian menjadi viral soal salam satu jari itu. Nah, itu kan walaupun medianya tidak berpihak ke Prabowo, hal-hal seperti itu yang diberitakan tentunya poin buat Pak Prabowo," kata Dasco saat dimintai konfirmasi.


Ketua DPP Gerindra Habiburokhman keberatan dengan penilaian LSI Denny JA itu. Habiburokhman menegaskan Prabowo justru kelebihan 3M.

"Justru Prabowo surplus 3M," tegas Habiburokhman saat dimintai konfirmasi.


Habiburokhman lalu berbicara tentang momentum. Menurut dia, saat ini justru momentum yang paling tepat bagi Prabowo.

"Ketidakmampuan petahana memenuhi ekspektasi, seperti dolar Rp 10 ribu, pertumbuhan ekonomi 7 persen, dan ketersediaan lapangan kerja adalah momentum yang amat pas bagi kami yang mengedepankan isu ekonomi. Justru yang kehilangan momentum adalah Jokowi, karena banyak harapan yang tak terpenuhi," beber dia.


Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja juga berbicara soal pernyataan LSI Denny JA itu. Bagi Wakil Ketua TKN Johnny G Plate, pernyataan LSI itu juga menjadi pengingat untuk pihaknya.

"Justru ingatkan, momentum penting, media penting, logistik (money) penting. Kami gunakan ini secara efektif dan efisien," ucap Johnny kepada wartawan di kantor Lemhannas, Jalan Medan Merdeka Selatan.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed