DetikNews
Senin 22 Oktober 2018, 19:57 WIB

Melihat Wajah TPST Bantargebang Kini

Isal Mawardi - detikNews
Melihat Wajah TPST Bantargebang Kini TPST Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat (Isal Mawardi/detikcom)
Jakarta - Sejak pengelolaannya diambil alih Pemprov DKI Jakarta pada 2016 di masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), wajah TPST Bantargebang yang kumuh dan gersang berubah jadi lebih tertata dan terdapat penghijauan. Bagaimana kondisinya sekarang?

detikcom meninjau kondisi TPST Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (22/10/2018) sore. Di pintu utama, bau sampah tidak begitu menyengat. Bau sampah baru tercium ketika truk-truk sampah non-compactor atau truk tanpa penutup melintas.

DI area luar pintu utama hanya terdapat sedikit tanaman sehingga keadaannya cukup gersang. Terlihat sejumlah vandalisme di tembok tepat sebelum pintu masuk TPST Bantargebang.

Jalan di depan gerbang masuk ke TPST BantargebangJalan di depan gerbang masuk ke TPST Bantargebang (Isal Mawardi/detikcom)

Setelah pintu utama, terdapat pohon-pohon setinggi 2-3 meter di pinggir jalan. Tanaman berwarna-warni menghiasi area sekitar pintu utama.

Sayang, tulisan ikonik 'Green TPST Bantargebang' tampak kotor bercampur sampah plastik. Terlihat seorang petugas kebersihan memungut sampah di sekitar area tersebut.


Untuk mengurangi bau sampah, pengelola TPST Bantargebang menggunakan geomembran berwarna hitam untuk menyelimuti tumpukan sampah. Fungsinya menangkap gas metana dan menyalurkannya menjadi energi listrik.

"Isinya (geomembran) sampah juga, Pak. Fungsinya untuk meng-capture gas metana yang dihasilkan dari proses dekomposisi sampah. Kemudian gas disalurkan ke powerplant untuk dijadikan energi listrik," ujar Kepala Satuan Pelaksana Pengolahan Energi Terbarukan, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Rizky Febriyanto.

Jalan utama di TPST Bantargebang tampak bersih dari sampah. Beberapa petugas kebersihan terlihat bersiaga di bahu jalan. Mereka akan membersihkan sampah-sampah jika tercecer dari truk sampah yang melintas.

Jalan utama Jalan utama (Isal Mawardi/detikcom)

Di tengah area gunung sampah, terdapat mesin pengeruk sampah. Di antara gunung sampah itu, ada sejumlah warga yang bekerja memulung sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. Di lokasi juga terlihat beberapa pedagang menjajakan dagangan, mulai warung kopi hingga warung mi ayam. Tampak beberapa orang beristirahat di warung tersebut.

Gunung sampah di TPST BantargebangGunung sampah di TPST Bantargebang (Isal Mawardi/detikcom)

Di sisi lain TPST Bantargebang, ada pula unit pengelolaan kompos, yang terdapat kebun. Terlihat lima petugas sedang menyiram kebun yang ditanami berbagai jenis buah dan sayur mayur.

"Ada jambu, sawo, belimbing, rambutan, mangga, cabai, terong, pepaya, jeruk, dan pisang," ujar Koordinator Lapangan Unit Pengolahan Kompos, Fuji.

Ada perkebunan di TPST BantargebangAda perkebunan di TPST Bantargebang (Isal Mawardi/detikcom)

Terdapat tiga petak kebun di Unit Pengolahan Kompos. Tidak tercium bau sampah di kebun tersebut. Udara di lokasi ini pun terbilang sejuk karena dipenuhi aneka tanaman.

Fuji mengatakan kebun sengaja dibuat di area TPST Bantargebang untuk penghijauan. Selain itu, hasil tanaman buah-buahan dan sayur mayur dapat digunakan untuk kesejahteraan pegawai TPST Bantargebang.

"Hasilnya buat siapa saja. Bisa buat kita (pegawai) juga," ujar Fuji.


Rizky Febriyanto mengatakan kondisi TPST Bantargebang di era Ahok dan era Anies Baswedan tidak ada bedanya. Menurutnya, Anies sama sekali tidak mengganti program dan kebijakan yang eksis di era Ahok.

"Sebetulnya sama saja, karena yang diprogramkan waktu Pak Ahok memimpin masih diprogramkan sekarang dan Pak Anies nggak mau dikurangi sama sekali apa yang sudah diprogramkan Pak Ahok saat menjabat gubernur. Kalau bisa ditambah, sarana dan prasarana akan ditambah," ujar Rizky.

Beberapa program tambahan di era Anies Baswedan ialah incinerator (pengolahan sampah menjadi energi listrik) dan landfill mining (pengerukan sampah). Sedangkan program era Ahok seperti sanitary landfill (pemusnahan sampah dengan cara ditimbun dengan tanah), lalu program kesejahteraan karyawan hingga kesejahteraan pemulung.

Perkebunan di TPST BantargebangPerkebunan di TPST Bantargebang (Isal Mawardi/detikcom)

"Tahun ini kita bikin pilot project incinerator, pengolahan sampah dengan proses termal atau pembakaran dengan suhu tinggi dan menghasilkan energi listrik. Lalu tahun depan kita coba pola landfill mining. Jadi landfill yang sudah menggunung ini, satu zona nanti kita keruk sampahnya yang menggunung ini sampai jadi lahan baru," ujar Rizky.

Terlihat truk-truk berwarna oranye bertulisan 'Dinas Kebersihan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta' masih hilir mudik di TPST Bantargebang. Antrean panjang sekitar 100 meter terlihat di pintu masuk.

Di pintu utama, truk ditimbang muatan awal. Setelah ditimbang, truk antre untuk membongkar muatan sampah. Sembari antre, satu-dua orang naik ke atas truk untuk memilah sampah yang masih bisa didaur ulang. Lalu truk ditimbang muatan kosong. Setelah ditimbang, beberapa truk ada yang kembali menuju Jakarta, ada pula yang dicuci terlebih dahulu.
(hri/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed