Rektor Mengkritik Demo di UGM
Senin, 22 Agu 2005 17:46 WIB
Yogyakarta - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Sofian Effendi mengkritik aksi demo yang sering terjadi di kampus UGM yang dilakukan oleh berbagai kelompok mahasiswa. Aksi-aksi demo yang marak terjadi di UGM, menurut Sofian, bukanlah merupakan representasi keinginan mahasiswa secara umum karena hanya diikuti oleh segelintir orang saja. Aksi demontrasi tersebut juga merupakan gambaran lahirnya sindrom anak manja yang terjadi saat ini.Hal itu dikemukakan oleh Sofian Effendi kepada wartawan seusai mengadakan pertemuan dengan orangtua mahasiswa dan mahasiswa baru tahun 2005 di Gedung Graha Sabha Pramana Bulaksumur Yogyakarta, Senin(22/8/2005)."Aksi-aksi mereka inginnya harus dituruti semunya. Itu merupakan gambaran sindrom anak manja," katanya.Menurut Sofian, menjadi rektor zaman sekarang itu sebenarnya jauh lebih susah dibandingkan menjadi rektor di masa Orde Baru. Rektor dulu sebelumnya tidak pernah didemo tetap sekarang hampir setiap hari rektor didemo."Jadi rektor sekarang ini harus siap mengahadapi demo yang kadang setiap hari ada," kata Sofian sambil tertawa.Meski sering didemo dan terjadi demo di kampus UGM, dia meminta para orangtua mahasiswa baru di UGM tidak perlu khawatir dengan maraknya aksi demo tersebut. Sebab aksi demontrasi selama ini diikuti tidak lebih dari 100 orang. Padahal jumlah mahasiswa di UGM mencapai 56 ribu mahasiswa dari 18 fakultas."Jadi masih ada sebanyak 55.900 mahasiswa UGM yang tidak ikut demo. Hal ini menunjukkan aksi demontasi hanya kemauan sekelompok kecil mahasiswa saja," ujarnya.Menyinggung pertemuan antara orangtua mahasiswa dan mahasiswa yaang dilakukan hari ini, Sofian sebagai pimpinan universitas berkeinginan mengenalkan program-program umum yang dijalankan di UGM. Semua misi, visi UGM ke depan dijelaskan secara gamblang dihadapan ribuan orangtua mahasiswa dan mahasiswa baru."UGM mau seperti apa dan hendak dibawa ke mana, semuanya dijelaskan kepada orangtua. Pengenalan ini juga akan memberi gambaran kepada orangtua untuk mengetahui mau seperti apa putra putri mereka ke depan," kata mantan Ketua BAKN itu.Selain itu, kata Sofian, universitas juga menekankan kepada orangtua mahasiswa bila proses belajar-mengajar saat ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah (universitas), pemerintah daerah dan masyarakat termasuk pula orangtua mahasiswa."Semua itu sudah diatur dalam UU Sisdiknas yang salah satu imbasnya adalah mahalnya pendidikan," demikian Sofian Effendi.
(nrl/)











































