"Oh bukan, bukan pergerakan tanah, kalau saya lihat daerahnya ini sepertinya datar. Daerah datar ini mungkin dulu semacam kubangan atau rawa atau bekas sungai atau bekas sumur," kata Rovicky saat dihubungi, Senin (22/10/2018).
Rovicky menjelaskan fenomena ini bisa terjadi karena didukung faktor hujan. Jadi, air masuk ke tanah sesaat sebelum tanah terbelah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah jadi yang di atas tanahnya tipis, ini yang akhirnya retak," sambungnya.
Rovicky menilai fenomena ini tidak berbahaya bagi warga sekitar. Asalkan, segera dilakukan solusi jangka pendek agar retakan tidak meluas dan tidak tergerus sampai dalam.
"Nggak (berbahaya) ini sebenarnya seperti proses subsider kecil aja, Nah makanya ini harus cepat cepat ditutup tanah baru, diuruk aja ini supaya nanti tidak ada air masuk lagi," imbuhnya.
Sebelumnya, fenomena terbelahnya tanah ini terjadi pada Sabtu (20/10) siang saat terjadi hujan lebat disertai petir. Tanah lapangan Pedurenan terbelah sepanjang 20 meter dengan kedalaman bervariasi sampai 1,5 meter. (idh/idh)