DetikNews
Minggu 21 Oktober 2018, 14:40 WIB

Timses: Bicara Tahiyat, Ma'ruf Ingatkan Jangan Sensi dengan 1 Jari

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Timses: Bicara Tahiyat, Maruf Ingatkan Jangan Sensi dengan 1 Jari Foto: Ace Hasan Syadzily (Zunita Putri/detikcom).
Jakarta - PKS menginginkan tahiyat akhir yang diungkit cawapres Ma'ruf Amin saat menanggapi isu pelaporan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan terkait pose 1 jari dibedakan. Partai Golkar menyebut Ma'ruf hanya ingin semua pihak tak terlalu sensitif dengan pose 1 jari.

"Intinya, pihak sana jangan terlalu lebay. Apa-apa kok dinilai kampanye. Apa yang disampaikan Pak Kiai Ma'ruf Amin itu maksudnya adalah agar kita jangan terlalu sensitif dengan 1 jari tangan. Biasa sajalah. Masyarakat juga sudah tahu perlambang simbol yang sering digunakan tangan kita," ujar jubir Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily saat dikonfirmasi, Minggu (21/10/2018).
Wakil Ketua Komisi VIII DPR itu lalu membicarakan perihal pelaporan Luhut dan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke Bawaslu terkait pose 1 jari di Bali beberapa waktu lalu. Ace mengaku heran.

"Itulah yang saya juga heran. Kok apa-apa dilaporkan ya? Jangan-jangan ketika saya memimpin rapat di DPR, lalu dengan tidak sengaja mengangkat telunjuk satu jari saking semangatnya juga dilaporkan juga ke Bawaslu. Atau nanti pihak sana akan mengusulkan supaya angka nanti dimulainya bukan dari angka 1 karena takut dibilang kampanye?" sebutnya.
Ketua DPP Partai Golkar itu jelas menyayangkan pelaporan Luhut dan Sri Mulyani terkait pose 1 jari. Meski demikian, dia menghormati langkah pelapor Luhut-Sri Mulyani.

"Saya kira kita proporsional-lah. Itu bukan substansi kampanye. Masak gara-gara telunjuk yang sepele dilaporkan ke Bawaslu. Namun demikian bagi kami silakan saja, itu hak mereka untuk melaporkan ke Bawaslu," tegas Ace.
Sebelumnya, Ma'ruf meminta pose satu jari atau semacamnya harus dilihat konteksnya secara jelas. Mantan wantimpres era SBY ini menyebut SBY juga sering memeragakan pose satu jari sambil mengacungkan telunjuk. Dia juga berbicara soal tahiyat akhir dalam salat.

"Pak SBY tuh sering ngomong begini-begini (nunjukin gestur nunjuk) apa itu kampanye juga? Belum tentu orang begini (nujukin jari) itu kan kampanye. Kalau orang tahiyat akhir, Asyhadu alla illaha illallah, orang kan pasti nunjuknya satu," kata Ma'ruf di kediamannya, Jalan Lorong, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (20/10).

PKS meminta tahiyat akhir dengan polemik Luhut dibedakan. "Tahiyat dalam salat itu merupakan bagian dari tata cara ibadah yang sudah ada sejak 15 abad lalu. Tidak diniatkan dalam kaitan apa pun, kecuali beribadah kepada Allah," ujar Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin saat dikonfirmasi, Minggu (21/10).
(gbr/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed