DetikNews
Minggu 21 Oktober 2018, 10:29 WIB

PD Tolak Gestur 1 Jari Luhut Dikaitkan dengan Gaya Bicara SBY

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
PD Tolak Gestur 1 Jari Luhut Dikaitkan dengan Gaya Bicara SBY Foto: SBY (Agung Pambudhy)
Jakarta - Cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin mengungkit gestur berbicara Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY terkait pelaporan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan ke Bawaslu karena berpose 1 jari di acara IMF-World Bank. Apa kata PD?

"SBY memang sering terlihat menunjuk jari satu mengikuti gestur tubuh dalam berbagai pidato, terutama untuk menunjuk pada satu persoalan yang dianggap penting. Sifatnya bukan reflek, tetapi mengikuti titik tekan satu tema pembicaraan yang dianggap penting. Kemudian ini menjadi ciri khasnya," ujar Wasekjen PD Andi Arief menjelaskan soal gaya berbicara SBY yang diungkit Ma'ruf, Minggu (21/10/2018).


PD Tolak Gestur 1 Jari Luhut Dikaitkan dengan Gaya Bicara SBYFoto: Andi Arief (Dok. Twitter Andi Arief)

Andi menegaskan pose 1 jari Luhut-Sri Mulyani beda dengan kebiasaan SBY saat berbicara. Bagi dia, Luhut dan Sri tak punya kebiasaan menunjuk-nujuk salah satu jari dalam berpidato atau menyampaikan pendapat.

"Dalam kasus jari Luhut dan Sri Mulyani, menurut saya itu bukan kebiasaannya. Kedua menteri penting itu tidak punya gestur satu jari untuk menekankan satu persoalan. Mereka berdua sama-sama mengandalkan intonasi yang agak tinggi untuk menekankan satu tema penting," katanya.

Eks Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam era Presiden ke-6 RI SBY itu menyebut pose satu jari Luhut dan Sri Mulyani menimbulkan beragam tafsir. Meski demikian, dia meminta tendensi dua menteri itu saat berpose satu jari harus didalami terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah ada pelanggaran atau tidak.

"Jadi dalam kasus satu jari di Bali, menurut saya memang bisa ditafsirkan pada tindakan kesengajaan untuk dihubungkan dengan politik pemilu. Apalagi mikrofon terdengar oleh semua peserta. Namun apakah mereka berdua sedang bercanda atau sedang serius berkampanya, inilah titik persoalannya," tutur Andi.


Bagi Andi, Sri Mulyani tak punya maksud politik saat berpose satu jari. Namun, dia mengkritik Luhut yang disebutnya berpose menggunakan hati.

"Kalau saya sendiri menilai SMI tendensinya becanda. Tapi Pak Luhut memang dibawa perasaan untuk menolak mengikuti salam victory. Bagi Partai Demokrat, jari Luhut dan SMI bukan persoalan penting. Namun sebagai pejabat pemerintah diharapkan berhati-hati saja," ucapnya.

Sebelumnya, Ma'ruf meminta pose satu jari atau semacamnya harus dilihat konteksnya secara jelas. Mantan wantimpres era SBY ini menyebut SBY juga sering memeragakan pose satu jari sambil mengacungkan telunjuk.

"Pak SBY tuh sering ngomong begini-begini (nunjukin gestur nunjuk) apa itu kampanye juga? Belum tentu orang begini (nujukin jari) itu kan kampanye. Kalau orang tahiyat akhir, Asyhadu alla illaha illallah, orang kan pasti nunjuknya satu," kata Ma'ruf di kediamannya, Jalan Lorong, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (20/10).

Sedangkan Luhut tidak mempersoalkan pelaporan dirinya ke Bawaslu tersebut. "Ya nggak apa-apa, kan Indonesia nomer satu," kata Luhut saat dimintai tanggapan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/2018).

Luhut menegaskan, pose satu jarinya itu bukan untuk mengkampanyekan salah satu peserta Pilpres 2019. "Nggak ada (maksud kampanye)," jelasnya.


(gbr/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed