DetikNews
Sabtu 20 Oktober 2018, 17:29 WIB

Kembang Kempis Calon Legislator

Ibad Durohman - detikNews
Kembang Kempis Calon Legislator Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - "Gue ngurus dana kampanye gue sendiri. Ini berat gue, nih. Kaus saja Rp 32 ribu satu biji, Bos. Aduh...!" Habiburokhman menumpahkan keluh kesahnya. Pemilihan legislatif makin dekat. Ia kudu menyiapkan logistik untuk pendanaan dirinya menjadi calon anggota legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Habiburokhman belum tahu apakah dana kampanye yang dihabiskan untuk capres-cawapres itu juga dilaporkan ke Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Yang jelas, saat ini ia harus merogoh kocek sendiri untuk membiayai dua jenis kampanye tersebut. "Gue saat ini kembang-kempis. Semoga terkejar sampai pelaksanaan," katanya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Caleg Gerindra Dapil DKI Jakarta I, yang meliputi wilayah Jakarta Timur, itu, memperkirakan setidaknya butuh Rp 1,5 miliar untuk memesan kaus serta alat peraga lainnya. Belum lagi ongkos saksi di tempat pemungutan suara, yang bisa juga nantinya dibebankan kepada caleg. Mekanisme untuk itu belum dibahas.

Masalahnya adalah dana yang harus dikeluarkan membengkak. Sebagai caleg, ia juga harus mengkampanyekan calon presiden dan wakil presiden yang diusung oleh partainya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebab, pilpres-pileg pada April 2019 nanti berlangsung serentak.

Apakah capres-cawapres tak membantu atau patungan? Ketua DPP Partai Gerindra ini bilang tidak ada. Namun Habiburokhman juga memaklumi bahwa Prabowo dan Sandi harus mengeluarkan banyak dana untuk blusukan ke daerah. "Prabowo mengajari kita untuk mandiri. Saling menguntungkanlah," kata Habiburokhman.

Andre Rosiade, caleg Gerindra lainnya dari Dapil Sumatera Barat I, yang mencakup sebelas kabupaten dan kota, menegaskan prinsip simbiosis mutualisme itulah yang ditekankan Gerindra. Sebab, dengan mengkampanyekan capres-cawapres, seorang caleg mendapatkan efek positif, yaitu gampang dikenal oleh pemilih.

Karena itu, ia rela apabila harus merogoh kocek lebih dalam. Andre tidak menyebutkan berapa duit yang dia siapkan untuk memenangkan dirinya dan Prabowo-Sandi di Sumbar. Namun, dari yang dia tahu, kalau mau jadi, seorang caleg harus menyiapkan Rp 8-10 miliar. Dan, ia sendiri sudah keluar lebih dari Rp 1 miliar untuk memasang billboard dalam setahun ini.

Dana yang juga tidak sedikit, kata Andre, adalah untuk membiayai iklan bersama di media massa, baik surat kabar, radio, dan televisi. Selain itu, di era sekarang ini, ia harus membayar untuk beriklan di media sosial. "Gue juga harus spend uang untuk kampanye medsos. Jadi seluruh lini harus digarap," ujar Andre.

Di samping alat peraga dan kampanye di media, Andre mengaku menanggung biaya-biaya acara dan kunjungan capres-cawapres ke dapilnya. Sebagai contoh acara deklarasi #2019Prabowo Presiden yang digelar di Sumatera Barat beberapa waktu lalu dengan menghadirkan Neno Warisman dan Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon.

Mulai sewa tempat pelaksanaan hingga pelantikan badan pemenangan daerah provinsi, dia yang membayari. "Itu puluhan juta rupiah habis. Terus ada nonton bareng sama masyarakat di bioskop milenial, itu sewa 200 tiket," katanya.

Ulasan lengkapnya dapat Anda baca di detikX edisi Jumat 19 Oktober 2018


T
onton juga video 'TKN Jokowi-Ma'ruf Luncurkan Rekening Dana Kampanye':

[Gambas:Video 20detik]


(irw/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed