DetikNews
Sabtu 20 Oktober 2018, 11:15 WIB

4 Tahun Nawacita di Mata Mantan Pendukung dan Rival Jokowi-JK

Bagus Prihantoro Nugroho, Danu Damarjati - detikNews
4 Tahun Nawacita di Mata Mantan Pendukung dan Rival Jokowi-JK Jokowi dan JK pada 2014. (Rengga Sancaya/detikcom)
FOKUS BERITA: 4 Tahun Jokowi-JK
Jakarta - Nawacita, yang merupakan sembilan program prioritas Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, sudah berjalan 4 tahun. Selama kepemimpinan mereka, ada tokoh yang dulu satu kubu kini menyeberang ke kubu lawan dan sebaliknya.

Salah satu tokoh yang dulu berada di satu kubu adalah Ferry Mursyidan Baldan. Selain masuk dalam tim pemenangan, Ferry pernah menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) di kabinet Jokowi-JK.



"Karena saya pernah di dalam, nggak inilah (tepat) kalau saya memberikan penilaian," ungkap Ferry ketika ditanya tentang pencapaian Nawacita oleh detikcom, Jumat (19/10/2018) malam.
Ferry Mursidan Baldan.Ferry Mursidan Baldan (Ari Saputra/detikcom)

Ferry digantikan oleh Sofyan Djalil sebagai Menteri ATR pada Juli 2016. Kini Ferry merupakan Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Saya pernah menjadi bagian (pemerintahan Jokowi-JK), meskipun sudah dua tahun kurang, pada umumnya menyeluruh. Biar orang lain yang menilai," ujar Ferry.

Di sisi lain ada Ali Mochtar Ngabalin, yang kini menjabat Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP). Ali Ngabalin pada 2014 berada di tim pemenangan Prabowo-Hatta Rajasa, yang merupakan rival Jokowi-JK.



"Dulu saat saya di Koalisi Merah Putih, sama sekali kita tidak membicarakan dan mempelajari Nawacita," ujar Ngabalin saat dimintai pendapat detikcom.

Dia lalu bercerita, ketika pada 2014 MK memutuskan kemenangan Jokowi-JK atas Prabowo-Hatta, dia memberi opsi kepada rekan-rekannya. Pilihannya adalah menjadi oposisi atau bergabung dengan pemerintah.

"Saya orang pertama yang bilang waktu itu, 'Semua gagasan dan pikiran terbaik dari KMP bakal menjadi dua pilihan, yakni apakah mau bergabung dengan pemerintah atau menjadi oposisi. Kalau menjadi oposisi, peganglah programmu, kemudian bandingkan dengan apa yang dijalankan pemerintahan Jokowi-JK,'" tutur Ngabalin.

Tetapi, kalau ingin bergabung, gagasan-gagasan itu siap dijalankan pemerintah. Seiring dengan berjalannya waktu, Ngabalin mengaku kecewa terhadap sikap rekan-rekannya di oposisi.

"Tapi mereka menjadi oposisi, oposisi yang keblinger, menyebarkan berita bohong, menyalahkan orang lain, dan lain sebagainya. Saya menyatakan apa yang dilakukan Presiden dengan Nawacita membangun dari pinggir itu menjadi fakta yang tak bisa dimungkiri. Silakan lihat Miangas yang jauh sepanjang sejarah RI tak ada satu biji pun presiden yang datang ke Miangas. Hari ini Jokowi bangun bandara di Miangas. Seluruh bandara di republik ini. Seluruh batas wilayah dari Miangas sampai Pulau Rote. Lihat di Aceh, di Manokwari, semua dibangun. Itulah wujud nyata membangun dari pinggiran," papar Ngabalin.

Ali Mochtar Ngabalin. Ali Mochtar Ngabalin di Sulawesi Tengah (Foto: dok. pribadi)


Meski dia memaparkan pencapaian Jokowi-JK, Ngabalin mengakui masih ada yang belum terlaksana.

"Jokowi bukan malaikat, Jokowi manusia biasa, Jokowi punya keterbatasan dan kekurangan. Tapi apa yang dia lakukan belum pernah terjadi di sejarah Republik Indonesia pada presiden-presiden terdahulu," ujar dia.


Saksikan juga video 'Muhammadiyah Beri 6 Masukan untuk Nawacita Jilid II Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]


(bag/hri)
FOKUS BERITA: 4 Tahun Jokowi-JK
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed