DetikNews
Kamis 18 Oktober 2018, 21:30 WIB

Lembaran Yuan dan Penggeledahan Maraton di Kasus Suap Meikarta

Jabbar Ramdhani, Ahmad Bil Wahid, Rina Atriana - detikNews
Lembaran Yuan dan Penggeledahan Maraton di Kasus Suap Meikarta Ilustrasi KPK (Foto: dok detikcom)
Jakarta - Ada mata uang China yang turut disita tim KPK dari rangkaian penggeledahan terkait perkara suap proyek Meikarta. Mata uang yuan itu--dari catatan detikcom--agak jarang muncul dalam proses penyidikan KPK.

Penggeledahan maraton itu digelar KPK sejak Rabu (17/10) hingga Kamis (18/10). Total setidaknya ada 12 lokasi yang ditelusuri KPK. Berikut rinciannya:

- Penggeledahan pada Rabu, 17 Oktober 2018
1. Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bekasi
2. Kantor Bupati Bekasi Nenang Hassanah Yasin
3. Rumah pribadi Bupati Bekasi Nenang Hassanah Yasin
4. Kantor Lippo di Matahari Tower, Tangerang
5. Rumah Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro

- Penggeledahan pada Kamis, 18 Oktober 2018
6. Apartemen Trivium Terrace
7. Rumah CEO Lippo Group James Riady
8. Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Bekasi
9. Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi
10. Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi
11. Kantor Lippo Cikarang
12. Hotel Antero di Cikarang




Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan sejumlah dokumen terkait dengan proyek perizinan Meikarta turut disita. Selain itu, ada dokumen kontrak, komputer, catatan keuangan, dan barang bukti elektronik lainnya yang juga dibawa KPK.

Sedangkan uang yang disita, disebut Febri, berasal dari rumah Bupati Bekasi Neneng Hassananh Yasin. Febri menyebut total uang yang disita lebih dari Rp 100 juta dalam pecahan rupiah dan yuan.

"Di rumah Bupati Bekasi, KPK menemukan uang rupiah dan yuan dalam jumlah lebih dari 100 juta," kata Febri.

KPK masih harus menganalisis temuan itu, apakah terkait perkara atau tidak. Dalam perkara ini, KPK sudah menetapkan sembilan orang tersangka. Para tersangka dari jajaran Pemkab Bekasi diduga menerima Rp 7 miliar sebagai bagian dari fee fase pertama yang bernilai total Rp 13 miliar.

Mata Uang Yuan 'Tak Populer' di Kalangan Koruptor

Operasi tangkap tangan (OTT) digelar KPK sejak 2005 hingga saat ini. Setidaknya sudah ada 100 OTT dilakukan KPK, yang berbuah 340 tersangka.

Dari berbagai OTT itu, sering kali uang suap yang disita KPK berupa rupiah, dolar Amerika Serikat, dan dolar Singapura. Sisanya ada beberapa mata uang yang ditemukan KPK, tetapi mata uang yuan cukup jarang.

Namun, dari catatan detikcom, setidaknya pernah ada temuan uang yuan di balik OTT yang dilakukan KPK. Seperti ketika KPK bersama Polri menjerat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tapanuli Utara, Sumatera Utara, berinisial JP pada 2016. Saat itu, tim gabungan KPK-Polri menyita uang dengan rincian Rp 235 juta, USD 100, dan 200 yuan. Pada akhirnya pengusutan perkara itu diserahkan KPK ke Polri.




Selain itu, terungkap tentang uang yuan dalam sidang mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Waryono Karno pada Agustus 2015. Saat itu Waryono menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa.

Jaksa KPK pada saat itu bertanya kepada Waryono soal uang yang ditemukan di dalam tasnya dalam penggeledahan pada Agustus 2013. Dalam tas Waryono itu ditemukan sejumlah uang dengan beragam jenis mata uang, mulai rupiah, dolar Amerika Serikat, hingga yuan.

Saat itu Waryono mengaku terbiasa mengumpulkan uang dalam bentuk valuta asing (valas). Uang-uang tersebut, menurut pengakuannya, didapat dari sewa apartemen, perjalanan dinas ke luar negeri, maupun saat menjalankan ibadah haji ke Arab Saudi.
(dhn/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed