DetikNews
Kamis 18 Oktober 2018, 11:23 WIB

Disetop, Trans Sarbagita Bali Tinggal Satu Trayek

Aditya Mardiastuti - detikNews
Disetop, Trans Sarbagita Bali Tinggal Satu Trayek Foto: Trans Sarbagita (dita/detikcom)
Denpasar - Trans Sarbagita disetop Gubernur Bali I Wayan Koster karena tidak sebanding dengan APBD. Satu-satunya yang tersisa adalah trayek Denpasar-Jimbaran.

Salah satu halte yang padat penumpang yaitu Halte Sudirman 2 yang terletak di depan Universitas Udayana (Unud), Jl Jenderal Sudirman, Denpasar, Bali. Salah satu mahasiswi Unud mengaku masih memilih transportasi ini untuk bolak-balik ke kosnya di Jimbaran.

"Soalnya lebih murah daripada naik motor, dan enak nggak kepanasan," kata Heidy Ivana saat ditemui di lokasi, Kamis (18/10/2018).

Mahasiswi asal Jakarta ini berharap ada bus tambahan yang dioperasikan. Sebab jeda waktu satu jam dirasa cukup lama, apalagi ketika di jam-jam sibuk.

"Harapannya sih nambah bus soalnya kalau yang sore penuh banget, jam-jam 15.00-17.00 Wita jam pulang kuliah. Terus masih ada halte yang nggak ada atapnya, kalau jam 12.00 Wita itu panas banget," ucap mahasiswi Fakultas Pariwisata UNUD itu.

Dia juga memberikan masukan soal jadwal bus yang fluktuatif. Ivana membandingkan dengan halte bus TransJakarta.

"Kalau di Jakarta kan sekarang sudah ada monitor yang dipasang di halte, jadi jadwalnya lebih tersusun. Kalau di sini kan jam 11.00 Wita tapi datengnya jam 11.15 Wita," keluhnya.

Hal senada juga disampaikan Sudjana (65). Warga Taman Griya, Jimbaran ini mengaku sebagai pengguna setia bus Trans Sarbagita.

"Saya sering memilih Sarbagita daripada naik mobil sendiri kalau jalurnya ada ya. Sebab kalau bawa mobil sendiri macet, pusing. Kalau pakai Sarbagita lumayan saya bisa sambil ngantuk di tempat dibangunin petugas," ucapnya.

Dia juga mengeluhkan soal jeda bus yang terlalu lama. Dia juga membandingkan layanan transportasi Bali dengan di Jogja.

"Jadwalnya sekarang sejak busnya ganti kecil, tadinya bus besar (jeda) 20 menitan sekarang 1 jam karena armadanya yang berkurang. Koreksi armada kurang ditambah sehingga dirapetin jadwalnya," ucapnya.

"Jarak satu jam itu terlalu lama. Di Jogja tiap 10 menit selalu ada dan selalu penuh. Koreksi lain di sini juga (penumpangnya) kurang peduli untuk lansia. Di Jogja saya baru masuk bus penuh sudah ada penumpang yang berdiri, di sini nggak ada, " tutur ayah satu anak itu.

Dia juga menyoroti soal fasilitas bus Trans Sarbagita. Di antaranya soal teknologi pembayaran.

"Di sini keluar bus bayar turun di halte masuk bayar lagi, kalau di Jogja kan nggak. Selain itu di Jogja maupun Jakarta kan sudah pakai e-Money di sini masih bayar manual lalu keluar tiket, mohon maaf, teknologinya masih jadul," tutur warga asli Bangli itu.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed