"Videonya sudah jelas juga ditunjukkan bahwa ada gerakan tangan yang ditunjukkan, mulai dari V diarahkan menjadi 1, dari 2 jadi 1," ujar Eddy kepada wartawan di kediaman Prabowo Subianto, Jl Kertanegara No 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/10/2018).
"Dan memang terlihat tidak hanya dengan kasatmata, tapi audionya pun sudah menunjang apa yang menjadi pembicaraan tersebut. Dan jelas itu adalah pengarahan untuk melakukan pemilihan terhadap salah satu kandidat pasangan calon," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eddy menyebut hal tersebut merupakan pertimbangan Badan Pemenangan Nasional (BPN) dalam melaporkan Luhut dan Sri Mulyani ke Bawaslu. Pertimbangan lainnya adalah pose tersebut ditunjukkan saat acara yang dibiayai APBN.
"Nah, itu diarahkan di dalam forum publik, dan itu adalah forum yang dibiayai oleh APBN dan dilakukan terhadap pejabat dari negara asing. Nah, itu yang kemudian menjadi dasar pertimbangan dari tim advokasi dan hukum untuk mengadukan ke Bawaslu," terang Eddy.
BPN Prabowo-Sandiaga memang berencana melaporkan Luhut dan Sri Mulyani karena pose satu jari di penutupan IMF-WB. Pose satu jari itu ditampilkan saat foto bersama bos IMF Christine Lagarde, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berpose bareng di atas panggung di Bali, Minggu (14/10). (zak/dkp)











































