DetikNews
Rabu 17 Oktober 2018, 21:00 WIB

Gerakan Emas Prabowo vs Manusia Unggul Jokowi

Elza Astari Retaduari, Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Gerakan Emas Prabowo vs Manusia Unggul Jokowi Foto: Ilustrasi Prabowo vs Jokowi. (Edi Wahyono/detikcom).
Jakarta - Pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggagas 'Gerakan Emas' yang merupakan pengganti 'Revolusi Putih', program yang sempat digaungkan Prabowo saat maju di Pilpres 2014. Kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin siap menantangnya dengan program 'Manusia Indonesia Unggul'.

Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzhar Simanjuntak membeberkan soal Gerakan Emas ini. Pada dasarnya gerakan tersebut masih seperti Revolusi Putih, program yang berfokus pada pemberian susu kepada anak sebagai bagian dari pembentukan generasi ke depan. Namun terdapat tambahan-tambahan.

"Gerakan Emas itu gerakan emak-emak dan anak minum susu. Jadi orientasinya pada penyediaan protein buat anak dan ibu miskin ya, karena ada tantangan serius buat masa depan Indonesia yaitu stunting growth itu," kata Dahnil saat dikonfirmasi, Rabu (17/10/2018).

Orientasi dari Gerakan Emas bukan hanya sekedar meminum susu, tapi kecukupan protein bagi anak. Program ini nantinya akan melibatkan masyarakat sehingga menjadi gerakan bersama. Gerakan Emas juga ditujukan terhadap sang ibu dan adanya keterlibatan masyarakat dalam penyediaan protein tersebut.


"Penyediaan protein anak-anak dan emak, keluarga miskin tapi dalam bentuk gerakan. Pak Prabowo keberatan kalau kemudian gerakan ini hanya dalam bentuk charity," papar Dahnil.

Beliau ingin menjadi gerakan baik pada saat beliau menjadi presiden atau sebelum beliau menjadi presiden, beliau ingin dorong semua komponen masyarakat, untuk terlibat dalam menyiapkan kecukupan protein bagi keluarga-keluarga yang tidak mampu," lanjutnya.

Gerakan Emas Prabowo vs Manusia Unggul JokowiFoto: Dahnil Anzar Simanjuntak. (Dok Facebook).

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf pun mengkritisi gerakan yang digagas kubu Prabowo-Sandiaga. Menurut Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, program tersebut tidak realistis dan cenderung terlalu mahal.

"Kalau susu itu kan pasti impor ya. Tidak mengedepankan local wisdom. Padahal untuk penyediaan protein bisa dengan ikan lele. Lele itu proteinnya 30% sama seperti daging yang harganya ratusan ribu. Lele itu paling Rp 20 ribu sekilo," ujar Karding dalam perbincangan, Rabu (17/10).

Ia mengingatkan, penyediaan susu memerlukan impor dari luar negeri. Karding lalu menyindir soal hal tersebut. Pemberian susu menurut Karding juga belum tentu cocok bagi semua orang. Mengingat demografi warga di Indonesia cukup beragam.


"Konsep ini tidak membumi dan tidak realistis. Kalau revolusi itu gerakan ke seluruh rakyat, dari ujung ke ujung harus dapat semua dan harus impor susu sebanyak-banyaknya. Katanya Indonesia jangan impor? Makanya saya bilang temen-temen di sana itu orang-orang teoritis, yang kurang memahami lapangan," sindir anggota Komisi III DPR itu.

"Kalau kita mengedepankan local wisdom. Mereka yang tinggalnya dekat laut kita dorong untuk makan ikan, ada yang mungkin kacang-kacangan, potensi alam kita begitu besar. Kalau susu, selain mahal belum tentu cocok bagi semua orang," tambah Karding.

Gerakan Emas Prabowo vs Manusia Unggul JokowiFoto: Abdul Kadir Karding (dok.pribadi)

Mendapat kritikan, BPN Prabowo-Sandiaga menjelaskan Gerakan Emas tak hanya sebatas pemberian susu bagi ibu dan anak. Pemberian susu disebut hanyalah tahap awal dari gerakan yang melibatkan masyarakat itu.

Nantinya Gerakan Emas akan melibatkan relawan yang berasal dari masyarakat yang mampu secara intelektual dan keuangan. Selain ikut menyediakan asupan protein bagi ibu dan anak, relawan tersebut juga akan memberikan edukasi terhadap pentingnya pola hidup sehat, asupan gizi yang cukup dan pembinaan-pembinaan jangka panjang.

"Relawan kemudian masyarakat yang mampu misalnya itu menjadi pendamping dari masyarakat-masyarakat yang rentan dengan stunting problem ini. Jadi kita ingin mendorong masyarakat yang mampu menjadi partner jadi tidak sekedar membangun kebijakan melalui fiskal, melalui APBN nanti kalau kami memerintah. Tapi juga kemudian dia menjadi kesadaran kolektif, jadi gerakan kebangsaan, gerakan sosial," jelas Dahnil.


Dari program ini, diharapkan muncul hubungan keluarga angkat. Bagi mereka yang mampu, akan bisa membantu masyarakat dari kalangan yang kesulitan. Gerakan Emas juga akan diperluas menjadi sebuah kebijakan utama dalam pemerintahan Prabowo-Sandi jika terpilih pada Pilpres 2019 mendatang.

"Kalau dulu koperasi itu ada bapak angkat, nah sekarang bahkan nanti ada keluarga, relawan-relawan yang berasal dari orang-orang mampu, mampu secara intelektual, mampu secara keuangan itu juga bisa menjadi saudara yang memberikan edukasi. Jadi basis kita gerakan ini kan sudah dimulai oleh Pak Prabowo melalui partainya tapi akan diperluas menjadi suatu gerakan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat," kata Dahnil.

"Menjadi salah satu kebijakan utama untuk mengatasi stunting growth, dan masalah sosial yang lainnya. Jadi tahapannya gitu. Awalnya revolusi putih berhenti pada susu, kemudian menjadi gerakan gotong royong, saling bersaudara, kemudian ketika Pak Prabowo jadi presiden akan jadi kebijakan," sambung Ketum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Merespons hal tersebut, kubu Jokowi-Ma'ruf Amin menyorongkan program 'Manusia Indonesia Unggul'. Dalam proses pembentukan generasi emas nanti, TKN Jokowi-Ma'ruf Amin menilai tidak cukup hanya sekedar fokus pada asupan.


"Di tim Jokowi-Ma'ruf ini bahwa gerakan membangun manusia Indonesia yang unggul, unggul itu harus komprehensif. Tidak boleh hanya satu bagian saja mulai dari kita harus memperhatikan dan fokus bagaimana mengurangi stunting, gagal tumbuh, ini salah satu yang kita lakukan," sebut Karding.

"Penting untuk mempercepat memberikan jaminan gizi sejak dalam kandungan. Pola asuh keluarga harus kita perbaiki, memperbaiki fasilitas air bersih, sanitasi, dan lingkungan yang mendukung tumbuh-kembang anak. Di samping itu, reformasi kesehatan kita perlu diperbaiki," sambung politikus PKB itu.

Menurut Karding, harus ada program promotif atau preventif agar masyarakat di Indonesia mau hidup dalam lingkungan yang sehat. Fasilitas yang memadai dinilai menjadi salah satu unsur untuk membentuk manusia unggul.

"Percepatan pemerataan infrastruktur dasar, apa sanitasi, kemudian rumah tangga yang sehat, memiliki jamban, warga miskin juga harus dijamin. Aksesnya ke seluruh pelosok urusan kesehatan, seperti KIS. Pemerataan fasilitas dan pemerataan pelayanan kesehatan baik di daerah tertinggal terdepan, dan terluar. Kalau kita kasih makan, asupan saja, tapi sistem kesehatan nggak dipikirkan, ya nggak bisa," kata Karding.

Mana yang lebih disukai masyarakat?
(elz/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed