Nyanyian Fayakhun di Kasus Bakamla Sebut Sejumlah Elite Golkar

Faiq Hidayat - detikNews
Rabu, 17 Okt 2018 19:39 WIB
Fayakhun Andriadi (Ari Saputra/detikcom)
Fayakhun Andriadi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Mantan anggota DPR Fayakhun Andriadi menyebut deretan nama pengurus Partai Golkar yang turut menerima uang terkait proyek di Bakamla. Menurut Fayakhun, uang-uang itu berasal dari jatah Rp 12 miliar yang diterimanya.

Awalnya Fayakhun menerima Rp 12 miliar dari Fahmi Darmawansyah, yang saat itu menjabat Direktur Utama PT Merial Esa, yang menggarap proyek di Bakamla tersebut. Uang itu kemudian dialirkan Fayakhun kepada sejumlah orang.

"Uang itu (Rp 12 miliar) sudah habis dipakai," ucap Fayakhun saat pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (17/10/2018).




Fayakhun kemudian memberikan lembaran kertas bertuliskan nama-nama pengurus Partai Golkar kepada jaksa KPK dan majelis hakim. Dalam lembaran kertas itu, tertulis pula berapa besaran jatah yang dibagikan Fayakhun.

"Termasuk Pak Novanto, menerima uang SGD 500 ribu, yang bahkan saya nombok SGD 50 ribu karena biar bulat saja," ujar Fayakhun.

Ketua majelis hakim Frangki Tambuwun kemudian menanyakan soal nama-nama tersebut. Fayakhun mengaku sudah menghubungi satu per satu orang-orang itu untuk mengembalikan uang itu ke KPK.

"Sudah dihubungi mau mengembalikan?" tanya hakim.

"Tidak mau kembalikan. Mereka mengakui menerima uang, tetapi tidak mau mengembalikan, kecuali Yorrys Raweyai dan Idrus Marham, (mereka) tidak mengakui menerima uang," sebut Fayakhun.

Fayakhun mengatakan ada uang yang diserahkannya secara langsung, ada pula yang melalui perantara. Terlepas dari itu, Fayakhun mengaku sudah mengembalikan Rp 2 miliar ke KPK.

"Dari tangan saya, (SGD) 100 ribu (untuk) tiga orang dari saya langsung," ujar Fayakhun tanpa menyebut nama.




"Ini siapa Olsu Babay?" tanya hakim sambil membaca lembaran kertas dari Fayakhun.

"Ketua Golkar Jakarta Utara Olsu Babay. Ada Sugandhi Bakrie, Ketua Golkar Wilayah Kepulauan Seribu. Tidak ada uang ke DPR, memang untuk kepentingan politik saya," jawab Fayakhun.

Fayakhun mengaku menyesali perbuatannya. Dia pun mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC) atau saksi pelaku yang bekerja sama.

Dalam perkara ini, Fayakhun didakwa menerima suap berupa USD 911.480 atau sekitar Rp 13 miliar dari mantan Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah. Uang suap itu dimaksud agar Fayakhun menambahkan anggaran Bakamla untuk proyek pengadaan satelit monitoring dan drone. (dhn/tor)