DetikNews
Rabu 17 Oktober 2018, 13:16 WIB

Terdakwa Kasus Bakamla: Aneh, Anggota Komisi XI Ikut Urus Proyek

Faiq Hidayat - detikNews
Terdakwa Kasus Bakamla: Aneh, Anggota Komisi XI Ikut Urus Proyek Fayakhun Andriadi (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Mantan anggota DPR Fayakhun Andriadi menyebut ada anggota DPR dari Komisi XI DPR yang mengklaim proyek di Bakamla. Padahal, menurut Fayakhun, Bakamla bermitra dengan Komisi I DPR.

Awalnya Fayakhun menyebutkan di suatu rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR ada pembahasan tentang anggaran di Bakamla. Di tengah rapat, Fayakhun pergi ke toilet. Saat itulah, ada anggota Komisi XI DPR yang mengklaim proyek di Bakamla.

"Saya kembali (dari toilet), (ada yang memberitahu), 'Ke mana saja tadi? Ada yang ngomongin Bakamla'," ujar Fayakhun ketika menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (17/10/2018).




Selepas rapat itu, Fayakhun ditemui Fahmi Habsyi alias Ali Fahmi. Fahmi Habsyi dalam persidangan sebelumnya disebut sebagai staf khusus bidang penganggaran Kepala Bakamla. Dalam penyidikan di KPK maupun persidangan, Fahmi Habsyi sudah beberapa kali dipanggil sebagai saksi tetapi tidak pernah muncul. Hingga saat ini keberadaan Fahmi Habsyi tidak diketahui.

"Setelah dari rapat, Fahmi Habsyi ajak ketemu saya, tunjukkan HP (handphone/telepon seluler) teman, (ada anggota Komisi XI di rapat Banggar bilang) 'Komisi XI solid untuk membantu Bakamla'," kata Fayakhun.

Fayakhun merasa heran lantaran Komisi XI tidak bermitra dengan Bakamla. Seharusnya, menurut Fayakhun, Komisi I yang mengurusi Bakamla karena memang bermitra.

"Memang itu agak aneh, ada penyelenggara negara yang memperjuangkan bukan mitranya," ujar Fayakhun.

Selepas itu, ada dua orang anggota Komisi XI bernama Bertu Merlas dan Donny Imam Priambodo menemui Fayakhun. Menurut Fayakhun, dua orang itu menemuinya di ruang pimpinan Komisi I.

"Dari Komisi XI, Bertu Merlas dari PKB dan Donny Imam Priambodo dari NasDem. Mereka mendatangi pimpinan Komisi I. Tiba-tiba saya dipanggil sama Ketua Komisi I Pak Abdul Haris. Mereka, Komisi XI, datang keapda saya bahwa proyek di Bakamla milik mereka," ucap Fayakhun.




Kepada Fayakhun, dua orang itu mengatakan proyek di Bakamla merupakan hadiah dari hasil menyetujui Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty di Komisi XI. Fayakhun menyebut kedua orang itu kemudian akan mengatur urusan itu bersama Komisi I.

"Bicaralah Pak Bertu Merlas menyatakan nanti atur kita, urusan sama kita, tapi itulah intinya," ucap Fayakhun.

Dalam perkara ini, Fayakhun didakwa menerima suap berupa USD 911.480 atau sekitar Rp 13 miliar dari mantan Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah. Uang suap itu dimaksud agar Fayakhun menambahkan anggaran Bakamla untuk proyek pengadaan satellite monitoring dan drone.



(dhn/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed