DetikNews
Rabu 17 Oktober 2018, 12:46 WIB

Homoseks di Cilegon yang Terkena HIV/AIDS Meningkat

M Iqbal - detikNews
Homoseks di Cilegon yang Terkena HIV/AIDS Meningkat Foto: thinkstock
Cilegon - HIV/AIDS di Kota Cilegon menjangkiti 733 orang dalam kurun waktu 2005-2018. Sebanyak 227 orang meninggal dunia akibat terjangkit virus tersebut.

Penyebaran HIV/AIDS di Cilegon paling banyak di Kecamatan Pulomerak. Dinas Kesehatan Kota Cilegon mendata, kelompok-kelompok yang sudah terserang HIV/AIDS di antaranya laki seks laki (LSL), waria, dan wanita pekerja seks.

Dari data 733 kasus itu, Dinas Kesehatan menyebut sudah 227 orang meninggal, hingga 2018 ini, yang masih terdeteksi orang yang terjangkit HIV/AIDS berjumlah 506 orang.

"Dari tahun 2005 sampai 2018 ini kami punya data HIV/AIDS itu 733 orang. HIV-nya 422 terus yahg AIDS-nya 311. Dari jumlah tersebut 227 udah meninggal. Jadi dari data itu yang kira-kira ada orangnya yang sudah kita deteksi penderita HIV sisa 506. Nah 506 itu ada yang berobat rutin ada yang mungkin DO itu menjadi tugas kita untuk mereka tetap berobat," kata Kadinkes Kota Cilegon Arriadna kepada wartawan, Rabu (17/10/2018).

Arriadma melanjutkan, pihamnya kesulitan mendata dan melakukan pengendalian penyebaram HIV/AIDS pada kelompok LSL. Menurutnya, kelompok itu menyaru dan eksklusif sehingga petugas kesehatan sulit untuk melakukan pendekatan.

"LSL itu terutama yang homoseks, kasusnya itu makin tahun makin bertambah yang kita deteksi HIV-nya. Untuk menganalisanya saya mem-flash back kasus 3 tahun ke belekang. Tahun 2015 saya menemukan kasus HIV 72 kasus, 2016 itu 79, 2017 itu 75, 2018 sampai bulan September sudah 51. Rata-rata kan 70an, ini sampai September 51," tutur Arriadna.

Penyebaran virus mematikan itu dulu berada di kelompok pengguna narkoba suntik, tiga tahun belakangan, jumlahnya terus menurun. Justru, peningkatan penyebaran HIV/AIDS sekarang berada di kelompok LSL.

"Dari data tersebut 733 itu kita ada satu hal yang membuat kami agak menjadi sulit melakukam approach kepada populasi kunci tersebut adalah di LSL. LSL itu terutama yang homoseks, kasusnya itu makin tahun makin bertambah yang kita deteksi HIV-nya," kata dia.

Dinas Kesehatan, lanjut Arriadna tidak mampu mengobati HIV/AIDS lantaran belum ada obatnya. Pihaknya hanya bisa mengandalikan penyebarannya saja. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak mengucilkan penderita HIV karena penyebaran HIV/AIDS sendiri tidak mudah.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed