DetikNews
Selasa 16 Oktober 2018, 22:35 WIB

'Deja Vu' Billy Sindoro di Jeruji KPK

Haris Fadhil, Dhani Irawan - detikNews
Deja Vu Billy Sindoro di Jeruji KPK Billy Sindoro ketika ditahan KPK. (Ari Saputra/detikcom)
FOKUS BERITA: Skandal Suap Meikarta
Jakarta - Sepuluh tahun mungkin menjadi waktu yang cukup lama bagi Billy Sindoro mengingat-ingat seperti apa rasanya digiring ke mobil tahanan KPK. Namun pastinya Billy tidak terlalu 'bernostalgia' lantaran kantor komisi antirasuah itu sudah pindah beberapa blok dari kantor lamanya.

Sore tadi, tepatnya pukul 15.10 WIB, Billy, yang mengenakan kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak, tersenyum selepas diperiksa penyidik di KPK, Jalan Kuningan Persada Kaveling K4, Jakarta Selatan. Kemeja itu berbalut rompi tahanan KPK berwarna oranye, kontras dengan warna biru tua kemejanya.




Billy ditahan selama 20 hari ke depan per hari ini, Selasa (16/10/2018). Dia sebelumnya ditangkap dengan sangkaan memberikan suap kepada Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin.

Tak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulut Billy hingga pria berkacamata itu masuk ke mobil tahanan yang mengantarnya ke rumah tahanan Polda Metro Jaya. KPK memang biasa menitipkan penahanan seseorang ke beberapa rutan.

Seolah deja vu, hal yang sama dialami Billy pada 17 September 2008. Saat itu pukul 19.45 WIB, Billy juga diam ketika digiring ke mobil tahanan yang menunggunya di kantor lama KPK, yang beralamat di Jalan HR Rasuna Said Kaveling C1, Jakarta Selatan. Billy kemudian dibawa ke rutan Polres Jakarta Barat.

Bedanya, saat itu Billy tidak mengenakan rompi tahanan warna oranye. Sebab, pada tahun itu, KPK yang dipimpin Antasari Azhar belum mengeluarkan kebijakan soal rompi tahanan. Perihal rompi tahanan itu--dari catatan detikcom--baru diterapkan KPK saat diketuai Abraham Samad pada 2013.

Selain itu, perkara yang menjerat Billy pada 2008 berbeda dengan kali ini. Saat itu, Billy menyuap anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) berkaitan dengan pemeriksaan KPPU atas laporan dugaan pelanggaran berkaitan dengan Hak Siar Barclays Premier League atau Liga Primer Inggris.




Singkat cerita, Billy divonis 3 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan pada 18 Februari 2009. Putusan pun inkrah karena Billy tidak mengajukan banding. Billy menjalani hukumannya hingga bebas dan saat ini kembali dijerat KPK dalam perkara lain.

"Salah satu pihak yang diduga sebagai pelaku dalam perkara ini adalah seorang yang pernah dijatuhi vonis bersalah dalam kasus suap terhadap anggota KPPU, kasus di KPK juga," ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif saat konferensi pers pada Senin, 15 Oktober malam.

Untuk perkara saat ini, Billy diduga menyuap Neneng Hassanah terkait perizinan proyek Meikarta. Dalam perkara ini, KPK menyebut Billy bertindak selaku Direktur Operasional Lippo Group.

Selain Billy dan Neneng Hassanah, KPK menetapkan tujuh orang tersangka lainnya. KPK mengatakan realisasi pemberian suap sebesar Rp 7 miliar dari total commitment fee Rp 13 miliar untuk urusan perizinan proyek Meikarta tersebut.
(dhn/nvl)
FOKUS BERITA: Skandal Suap Meikarta
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed