DetikNews
Selasa 16 Oktober 2018, 16:54 WIB

Soal Negara Ugal-ugalan, NasDem Sarankan Prabowo Bangun Optimisme

Tsarina Maharani - detikNews
Soal Negara Ugal-ugalan, NasDem Sarankan Prabowo Bangun Optimisme Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta - Capres Prabowo Subianto berbicara soal pengelolaan negara yang ugal-ugalan sehingga mimpi Indonesia berjaya kembali menjadi luntur. Partai NasDem menyarankan Prabowo berhenti menebarkan pesimisme.

"Jangan terlalu banyak mimpilah. Mimpi tahun 2030 Indonesia hancur? Sebaiknya beliau ikut membangun optimisme, sebagaimana yang disampaikan para ekonom dunia, bahwa Indonesia akan berjaya di masa depan," kata Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago kepada detikcom, Selasa (16/10/2018).

"Jangan malah pesimis dan menakut-nakuti rakyat dengan mimpi-mimpi buruk," imbuhnya.



Irma pun mengaku heran atas penilaian ugal-ugalan yang disematkan Prabowo untuk pemerintah. Menurut dia, saat ini keadaan aman sentosa.

"Nggak ada yang riuh tuh, biasa saja. Aman, damai, sentosa. Apa sih yang dimaksud dengan ugal-ugalan? Mengambil kembali hak rakyat Indonesia atas Freeport? Atau ambil kembali Blok Rokan? Kalau itu dianggap ugal-ugalan karena merugikan Amerika, terus keberpihakan kepada rakyat di mana dong," ujar anggota DPR itu.

Dia justru menilai saat ini Prabowo-lah yang sedang riuh sendiri. Irma menyinggung 'Make Indonesia Great Again' yang sempat dilontarkan Prabowo saat berbicara tentang slogan kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

"Perasaan beliau kali yang sedang riuh. Katanya pemerintah antek asing, kok sekarang malah meng-copy gaya kampanye Trump. Apa mereka tidak tahu atau tahu tapi memang ingin seperti Trump? Trump itu kan anti-Islam dan sangat rasis," tutur Irma.



Sebelumnya, Prabowo Subianto menjelaskan mengenai latar belakangnya soal pernyataan 'Make Indonesia Great Again'. Menurut Prabowo, pernyataan itu salah satunya didasari riuhnya Kabinet Kerja karena di dalamnya ada aksi saling tuding.

"Empat tahun terakhir kita melihat bagaimana sebuah keputusan bisa dengan mudah direvisi atau dibatalkan tanpa memikirkan dampak hingga rakyat bawah. Hukum menjadi alat tawar-menawar politik tanpa pernah mempedulikan rasa keadilan. Dan kita terus menyaksikan bagaimana riuhnya Kabinet Kerja, akibat saling tuding antar-kementerian dan lembaga negara. Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara," kata Prabowo.
(tsa/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed