DetikNews
Selasa 16 Oktober 2018, 16:49 WIB

Prabowo Bicara Negara Ugal-ugalan, Gerindra: Agar Kita Perbaiki Diri

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Prabowo Bicara Negara Ugal-ugalan, Gerindra: Agar Kita Perbaiki Diri Foto: Ketua DPP Gerindra Habiburokhman (Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta - Ketum Partai Gerindra sekaligus capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bicara pengelolaan negara ugal-ugalan yang membuat mimpi Indonesia kembali berjaya disebut perlahan luntur. Partai Gerindra menyebut Prabowo punya niat baik dalam pernyataan itu.

"Apa yang beliau sampaikan itu sudah sangat tepat. Maju mundurnya suatu bangsa tak hanya bergantung pada potensi dan kekayaan negara tersebut, tetapi juga bagaimana pengelolaan negara on the track atau tidak," ujar Ketua DPP Gerindra Habiburokhman saat dikonfirmasi, Selasa (16/10/2018).



Menurut Habiburokhman, Indonesia merupakan negara kaya. Bagaimana agar semua rakyat merasakan kekayaan negara disebut dia tergantung pengelolaan oleh negara.

"Negara kita kaya raya, strategis dan besar, faktanya bagian besar bangsa ini belum merasakan kesejahteraan. Itu indikasi konkret salah kelola," sebut Habiburokhman.

Meski kritik Prabowo cukup keras, Habiburokhman menegaskan eks Danjen Kopassus itu tidak berniat jahat. Ini, menurutnya, semata-mata agar bangsa ini memperbaiki diri.

"Omongan Pak Prabowo itu tidak tendensius, maksud beliau baik agar kita memperbaiki diri," katanya.

Prabowo Subianto menjelaskan mengenai latar belakangnya soal pernyataan 'Make Indonesia Great Again'. Menurut Prabowo pernyataan itu salah satunya didasari oleh riuhnya Kabinet Kerja karena di dalamnya ada saling tuding.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam sebuah tulisan di akun Facebook-nya, Prabowo Subianto. Prabowo menegaskan buah pemikirannya soal 'Make Indonesia Great Again' sudah tertuang di dua buah buku yang ditulisnya.


Dalam tulisan ini, Prabowo menyindir balik orang-orang yang memberikan pernyataan miring mengenai pernyataan 'Make Indonesia Great Again'. Ketum Gerindra ini curiga ada sesuatu di balik serangan terhadap pernyataannya itu.

"Empat tahun terakhir kita melihat bagaimana sebuah keputusan bisa dengan mudah direvisi atau dibatalkan tanpa memikirkan dampak hingga rakyat bawah. Hukum menjadi alat tawar menawar politik tanpa pernah mempedulikan rasa keadilan. Dan kita terus menyaksikan bagaimana riuhnya kabinet kerja, akibat saling tuding antar kementrian dan lembaga negara. Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara," ujar Prabowo.
(gbr/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed