DetikNews
Selasa 16 Oktober 2018, 10:35 WIB

Setahun Gubernur Anies

Kelanjutan OK OCE Setelah Sandiaga Jadi Cawapres

Mochamad Zhacky - detikNews
Kelanjutan OK OCE Setelah Sandiaga Jadi Cawapres Gerai OK OCE Kalibata sebelum pindah lokasi. (Trio Hamdani/detikcom)
FOKUS BERITA: Setahun Anies di DKI
Jakarta - Nasib program OK OCE dipertanyakan setelah Sandiaga Uno memutuskan mundur dari Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk menjadi cawapres. Sebab, program tentang kewirausahaan itu memang selalu 'diagung-agungkan' Sandiaga sejak masa kampanye hingga sekarang.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa dibilang tidak sesering Sandiaga dalam menyosialisasi program OK OCE. Terlebih, beberapa lama setelah Sandiaga resmi mundur dari jabatan Wagub DKI, program tersebut mulai diterpa isu miring, yakni terkait adanya OK OCE Mart yang tutup.



"Ada OK OCE Mart yang bisa terus berjalan, ada yang harus ditutup karena omzetnya turun secara drastis dan pengelolaannya belum bisa menghadirkan satu terobosan untuk omzet mereka," ucap Sandiaga di Jalan Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (2/9/2018).

Tanggapan negatif juga muncul guna merespons adanya OK OCE Mart yang tutup. Sandiaga menjadi sasaran kritik dari sejumlah anggota DPRD DKI, meski akhirnya dijelaskan bahwa OK OCE Mart yang tutup disebabkan harga sewa lahan.

"(OK OCE Mart) di Kalibata ini saya lihat sewa lahan, keuntungan itu tidak menutup keuntungan (pengeluaran, red). Sebelumnya itu semua lahan tidak sewa keuntungan, keambil sewa lahan, makanya mau pindah ke tempat lain tidak tahu," ujar Faransyah saat dihubungi detikcom, Minggu (2/9).



Anies juga sempat bicara menanggapi kondisi ada OK OCE Mart 'gulung tikar'. Anies menyebut kondisi tersebut wajar dalam dunia bisnis.

"Usaha online juga banyak yang tutup, banyak juga yang buka. Ya, usaha-usaha saja mengikuti nature business," kata Anies di Hotel Aryaduta, Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (4/9).

Permasalahan program OK OCE tak sampai di situ. Satu permasalahan lainnya adalah penolakan DPRD DKI terkait usul pengalokasian anggaran Rp 3,9 miliar untuk pelatihan dan uji kompetensi pendamping OK OCE.

Salah satu anggota Banggar dari Fraksi NasDem, Bestari Barus, menolak kegiatan itu. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak ada dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2018.

"Yang jelas, APBD penetapan yang menjadi acuan kita. Kalau ini kan tambah kegiatan baru. Sudah berapa ratus item kita drop karena judul baru? Kenapa ini harus istimewa?" ujar Bestari dalam rapat pembahasan Kebijakan Umum Perubahan Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUPA-PPAS) 2018 di gedung DPRD DKI Jakarta, Jakpus, Senin (17/9).

Tentu dana sertifikasi pendamping itu menjadi penting karena pendampingan merupakan salah satu fasilitas yang diberikan kepada anggota OK OCE. Dan saat ini ada 200 pendamping anggota OK OCE yang telah bergerak tapi belum disertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Memang kondisi di atas terjadi sepeninggal Sandiaga dari Pemprov DKI. Lantas, apakah OK OCE tetap bisa berjalan tanpa Sandiaga?

Sekadar informasi, berdasarkan data yang dipublikasi situs okoce.me, yang dilihat detikcom, Sabtu (14/10), ada 46.211 warga DKI yang menjadi anggota OK OCE. Kebanyakan dari mereka berjenis kelamin perempuan, yakni 58,6% dengan rata-rata lulusan SMA sebanyak 70,2%.

Menariknya, program tersebut berhasil menarik minat sekitar 5.000 warga Jakarta Utara. Kecamatan Tanjung Priok menjadi kecamatan dengan jumlah anggota OK OCE terbanyak se-DKI dengan 1.789 anggota, disusul Kecamatan Cilincing dengan 1.759 anggota, lalu Kecamatan Koja dengan 1.679 anggota.

Namun, lagi-lagi, apakah jumlah anggota OK OCE tersebut bisa menjadi salah satu indikator keberhasilan OK OCE?

Pertanyaan itu juga sudah dijawab oleh Bestari. Menurutnya, indikator keberhasilan OK OCE dilihat dari seberapa banyak anggota yang mendapat permodalan.

"Pendaftar yang banyak bukan indikator keberhasilan. Mereka sudah puluhan tahun jualan kok dilatih bikin kue? Akses modalnya mana?" sindir Bestari saat ditemui di DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (14/9).

DPRD DKI mencoret usulan anggaran Rp 3,9 miliar untuk sertifikasi pendamping OK OCE. Anies Baswedan yakin dicoretnya anggaran tersebut tidak akan mengganggu pelaksanaan program tersebut.

"Nggak (terganggu), ini kan gerakan," kata Anies di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (19/9).

Anies mengatakan pelaksanaan OK OCE banyak digerakkan warga. Dia meyakini gerakan tersebut akan terus berjalan meski tanpa didukung APBD.

"Ini adalah gerakan. Gerakan itu nature-nya dari rakyat oleh rakyat. Negara fasilitator aja," jelas Anies.


Saksikan juga video 'Sandi Curhat OK OCE Selalu Di-bully':

[Gambas:Video 20detik]


(zak/bag)
FOKUS BERITA: Setahun Anies di DKI
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed