detikNews
Selasa 16 Oktober 2018, 08:38 WIB

Gebrakan Gubernur Koster, dari Aksara hingga Bandara Bali Utara

Aditya Mardiastuti - detikNews
Gebrakan Gubernur Koster, dari Aksara hingga Bandara Bali Utara I Wayan Koster-Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (rengga/detikcom)
Denpasar - Belum genap 100 hari menjadi Gubernur Bali, I Wayan Koster melakukan sejumlah gebrakan. Dari sektor budaya, hingga penghematan APBD. Apa saja?

1. Penggunaan Aksara Bali
Gubernur Bali I Wayan Koster meresmikan penggunaan aksara Bali di kantor Pemerintah Provinsi Bali. Koster menyebut penggunaan aksara ini sebagai tindak lanjut Pergub tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

"Terbitnya Pergub ini merupakan program prioritas dalam bidang adat, agama, tradisi, seni, dan budaya sesuai dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang akan dilaksanakan pada 2018-2023, sebagai komitmen serius pada upaya pemajuan budaya Bali," kata Koster dalam sambutannya di Kantor Gubernur, Renon, Bali, Jumat (5/10/2018).

Penggunaan aksara Bali juga dilakukan di berbagai tempat umum. Selain itu, para pejabat publik juga wajib memakai baju adat di hari-hari tertentu.

2. Proyek Bandara Bali Utara
Koster memastikan pembangunan bandara di kawasan Bali Utara bakal terealisasi pada 2019 mendatang. Pemprov Bali telah menyiapkan anggaran pembebasan lahan sebesar Rp 200 miliar.

"Jadi saya menyediakan lahan titik 1 sampai 10 Rp 200 miliar. Mudah-mudahan nanti yang terealisasikan kurang dari Rp 200 miliar, sehingga dengan demikian tidak ada masalah lahan selesai 2019," kata Koster.

3. Proyek Kereta Api
Koster menyatakan Bali bakal segera mewujudkan kereta api berbasis tenaga listrik. Gerbongnya akan berbeda dengan gerbong kereta di daerah lain.

"Kemudian juga kereta api untuk transportasi Bali, saya sudah ditelepon Dirut PT Kereta Api Indonesia, itu akan mengembangkan kereta api sebagai salah satu moda transportasi," kata Koster.

Koster mengatakan desain kereta api itu bakal dibuat spesial. Dia optimistis desain kereta di Bali bakal berbeda dengan gerbong-gerbong kereta api lainnya yang ada di Pulau Jawa.

"Saya setuju karena itu BUMN, tapi kereta api khusus tidak seperti kereta Bandung-Jakarta, Jakarta-Bandung, dan sebagainya, akan tidak menarik. Nanti lihatlah gerbong yang bagus interior maupun eksteriornya, baik untuk publik maupun wisatawan," tuturnya.

4. Setop Trans Sarbagita
Gubernur Bali Wayan Koster menyetop program Bus Trans Sarbagita sebagai layanan transportasi massal. Sebab moda transportasi yang diresmikan pada 2011 itu sangat menguras kantong APBD.

"Coba saja sekarang bus Sarbagita itu, saya berpikir siapa juga yang dulu punya ide konyol begitu, maka sekarang saya setop. Hanya saya teruskan yang ke Udayana, ke Jimbaran, di luar itu saya setop. Karena itu (pendanaan) tak lain dari APBD rugi minyaknya banyak-banyak rugi. Bus muter kosong itu dikasih duit salah rumus jadi harus diganti. Jangan dulu paksakan, jadi kita akan pikirkan model lain," urainya.

Sebagaimana diketahui, Trans Sarbagita mulai beroperasi pada 18 Agustus 2011. Tiket Trans Sarbagita sebesar Rp 3.500 untuk umum dan Rp 3 ribu bagi pelajar. Biaya angkutan pengumpan dari rumah menuju halte atau koridor sebesar Rp 3 ribu untuk umum dan Rp 2.500 bagi pelajar.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com