DetikNews
Senin 15 Oktober 2018, 17:21 WIB

Menengok Ruang Kontrol Smart City Denpasar, Pantau Jalan Rusak-Hoax

Aditya Mardiastuti - detikNews
Menengok Ruang Kontrol Smart City Denpasar, Pantau Jalan Rusak-Hoax Foto: Pusat kontrol Smart City Denpasar (dita/detikcom)
Denpasar - Dalam kunjungannya Pemkot Mossel Bay, di Western Cape, Afrika Selatan mengapresiasi program smart city Kota Denpasar. Program smart city itu dinamakan Damamaya alias Denpasar Cyber Monitor dan dinilai mampu mengakomodir sekaligus merespons keluhan warga.

Ruang Damamaya ini berada di Gedung Sewaka Dharma, Jl Majapahit, Denpasar, Bali. Damamaya merupakan ruang koordinasi untuk mengintegrasikan seluruh data dan informasi dari berbagai aplikasi yang diluncurkan Pemkot Denpasar serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Denpasar.

Salah satu aplikasinya yaitu Pro Denpasar yang mirip dengan aplikasi Qlue di Jakarta. Lewat aplikasi ini warga Denpasar bisa melaporkan peristiwa, hingga menyampaikan keluhan seputar kota mereka, seperti jalan rusak, genangan, sampah dan lain-lain.

Dari aplikasi tersebut laporan dari warga akan langsung ditindaklanjuti oleh petugas yang ada di Damamaya. Kemudian petugas menyampaikan laporan tersebut ke OPD terkait untuk segera ditindaklanjuti. Penanganan laporan itu juga ditandai dengan warna kuning untuk yang sedang ditangani dan hijau untuk yang selesai ditangani.


Kepala Seksi Pengembangan Aplikasi Dinas Komunikasi Denpasar, Dewa Ngakan Ketut Rama Sanjaya mengatakan program ini efektif untuk mengurangi birokrasi yang berbelit-belit.

Dia mencontohkan lewat aplikasi e-Sewaka Darma pencairan dana santunan kematian yang tadinya bisa sampai berbulan-bulan kini bisa cair dalam waktu kurang dari tiga hari.

"Dari Kominfo menanamkan aplikasi e-Sewaka Darma untuk menajemen penduduk dari tingkat desa/kelurahan sampai layanan kematian. Kami mewajibkan pencairan santunan menggunakan aplikasi ini, sekarang masyarakat cuma sampai desa aja, otomatis datanya diverifikasi awal Catatan Sipil, kalay sudah oke diverifikasi Dinsos apakah benar ahli waris dan nomor rekeningnya, baru kemudian masuk ke Badan Keuangan untuk pencairan," terangnya.

"Layanan ini mengikat mereka supaya tidak perlu bikin banyak aplikasi. Kalau dulu (manual) sampai ada antrean tiga bulan, sekarang maksimal tiga hari dengan syarat data-data lengkap, bahkan kalau lengkap bisa sehari langsung jadi," sambung Dewa Rama.

Selain dua aplikasi itu, ada juga GPS Tracking yang menginformasikan tentang lokasi armada (ambulans, truk sampah dan truk pasuka biru) serta pergerakan operasional tugas sehari-hari. Ketika ada panggilan darurat 112 masuk, tim Damamaya bisa membantu mengiformasikan ambulans terdekat untuk menjemput pasien.

Tak hanya itu ada pula informasi tentang harga pasar, safe city yang berisi peta kerawanan di Denpasar, hingga e-SIDAB yang memetakan manajemen aset jaringan pipa distribusi lokasi pelanggan PDAM Kota Denpasar. Lewat aplikasi e-SIDAB ini bahkan pelanggan yang terlambat membayar iuran pun ikut terpantau.

Dewa Rama menambahkan pihaknya juga memiliki tim untuk penangkal hoaks di media sosial. Pihaknya yang akan mengolah informasi yang sebenarnya untuk kemudian disebarkan di media sosial.

"Ketika menemukan isu hoaks dari medsos kami rapatkan di comand room dengan OPD terkait, benar nggak berita ini. Dalam satu hari itu kita harus dapat resumenya apa, kalau itu hoaks kami segera membuatkan jawaban pemkot yang kemudian dibawa ke DCM Squad untuk dibuatkan video, desain grafis, atau berita di medsos. Kita pakai bahasa mileniallah, bukan seperti humas. Setelah dapat verifikasi atasan baru kita blast ke medsos," paparnya.

Dewa Rama menjelaskan keberadaan aplikasi-aplikasi tersebut dikembangkan pemkot bekerja sama dengan kampus-kampus yang ada di Bali. Tujuannya untuk mempermudah penanganan serta perencanaan pembangunan kota karena berbasis data.

"Kalau daerah lain cukup dengan WhatsApp grup, kami tidak, kami terkait dengan Bappeda. Misalnya daerah mana yang sering jalannya rusak supaya bisa penganggarannya, jenis pengadaan mana yang terbanyak jadi bahan e-planning. Kami berpikirnya ke depan supaya penganggaran tidak salah, kami WA itu sudah dua tahun yang lalu tapi bagaimana laporan itu bisa jadi data ke pimpinan," urai Dewa Rama.

Di lokasi yang sama, Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (Rai Mantra) menyebut Damamaya merupakan salah satu program big data pengaduan. Lewat Damamaya dia bisa memantau langsung pelaksanaan program-progam di daerah beserta rancangan program ke depan.

"Laporan saya bisa lihat langsung lewat web, lihat langsung di HP juga bisa, yang penting analisis datanya. Pengolahan data di Bappeda untuk perencanaannya, lalu kembali ke OPD. Kami juga punya grup respons cepat di Denpasar, yang bisa ditangani kelurahan ditangani lurah yang nggak bisa ditangani ke OPD," ujarnya.

"Sebenarnya ini salah satu program reformasi birokrasi yang sudah dimulai sejak 2009, tapi tinggal mengupdate sistem karena IT kan berubah terus. Ini rata-rata programmernya banyak putra derah juga," sambung Rai Mantra.

Rai Mantra menyebut program smart citynya lebih mengedepankan tindak lanjut dari laporan dan keluhan warga. Dia menyebut pengadaan teknologi-teknologinya pun dianggarkan bertahap.

"Anggaran ini bertahap ya karena bukan sumber dana yang besar. Saat ini sudah hampir 75 persenlah, ke depan tinggal penyempurnaan sistem dan yang paling penting OPD terkait menindaklanjuti. Wah anggaran mulai dari 2009, perbaikan terus seluruh OPD, kalau nilai M (miliar) mungkin paling bawah," kelakarnya.


Simak Juga '50 Kota/Kabupaten Siap Menuju Smart City':

[Gambas:Video 20detik]


(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed