DetikNews
Senin 15 Oktober 2018, 11:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar, MPR AJak Warga Nonton Wayang Kulit

Akfa Nasrulhak - detikNews
Sosialisasi Empat Pilar, MPR AJak Warga Nonton Wayang Kulit Foto: MPR
Jakarta - Pagelaran Wayang Kulit di Desa Cintamanis Baru, Kecamatan Air Kumbang, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, disambut antusias oleh masyarakat. Kepala Biro Humas Setjen MPR Siti Fauziah mengungkapkan rasa bangganya, sebab pagelaran seni budaya tradisional ini dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR.

"Saya bangga karena malam ini penontonnya cukup padat. Ini adalah pertanda bahwa masyarakat di sini sangat menyukai wayang kulit dan tampaknya juga mereka kangen akan kehadiran wayang," kata Siti yang juga ketua penyelenggara Pentas Seni Budaya Wayang Kulit, dalam keterangan tertulis, Senin (15/10/2018).



Lebih lanjut, Siti menjelaskan bahwa dalam menyosialisasikan Empat Pilar, MPR menggunakan berbagai metode karena sasarannya juga berbagai elemen masyarakat.

Untuk anak-anak Sekolah Dasar misalnya, sosialisasi dilakukan melalui komik, untuk siswa SLTA menggunakan metode Lomba Cerdas Cermat, lalu untuk guru dan pejabat-pajabat daerah melalui FGD atau seminar. Sementara untuk mahasiswa menggunakan metode Kemah Empat Pilar dan Training of Trainers (ToT), serta masih banyak metode lainnya.



MPR memilih seni budaya wayang kulit sebagai salah metode sosialisasi karena di dalam seni budaya tradisional ini mengandung filosofi yang berisi tuntunan dan dapat dijadikan panutan, selain sebagai tontonan.

"Mudah-mudahan cerita wayang yang disampaikan dalang, Ki Seno Aji, melalui lakon Wahyu Makutoromo, memberi manfaat untuk masyarakat, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," harap Siti.

Di lain pihak, Ketua Fraksi Gerindra di MPR Edhy Prabowo yang membuka pagelaran ini mengatakan pagelaran ini diwarnai semangat persatuan. Hal itu dibuktikan berkumpul para pejabat daerah bersama warga dan tokoh masyarakat dari berbagai elemen, juga hadir para calon legislatif asal Kabupaten Banyuasin dari lintas partai.

"Inilah tujuan diadakannya pagelaran wayang kulit, untuk menyatukan semua kekuatan. Karena kita sama-sama menyadari bahwa yang kita urus adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan negara milik satu kelompok. Dan inilah makna kita berbeda," ungkap pria kelahiran Tanjung Enim, Sumatera Selatan, itu.

Karena hampir 65% penduduk Kabupaten Banyuasin adalah warga Jawa, Edhy menilai bahwa di tengah ekonomi yang sulit seperti sekarang ini, wayang kulit menjadi salah satu alat yang paling efektif untuk bisa menyatukan rakyat dari semua suku. Apalagi di Banyuasin ini antara penduduk asli dan pendatang sangat kompak.

"Tinggal sekarang, bagaimana melalui pagelaran wayang ini rakyat Banyuasin, khususnya kecamatan Air Kumbang, bisa guyub dan rukun," ujar Ketua Komisi IV DPR yang membidangi pertanian itu.

Berkaitan dengan sosialisasi Empat Pilar MPR (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika), Edhy menjelaskan bahwa itu bukanlah tata urutan kenegaraan, melainkan hanya pengemasan.

Intinya, ada empat hal pokok di negara ini yang tidak boleh kita langkahi, yakni Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Oleh karena itu, lanjut Edhy, di negeri ini apapun bentuk kehidupan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. "Kalau bertentangan dengan Pancasila, itu berarti melawan hukum di Indonesia," ujar Edhy.

Sementara UUD NRI Tahun 1945 adalah hukum tertinggi di negeri ini yang jika ada hukum lain bertentangan dengan konstitusi maka hukum itu menyalahi aturan yang ada di Indonesia. Misalnya, kalau ada Perda bertentangan dengan UUD maka wajib dibatalkan atau bila ada UU yang dibuat DPR bertentangan dengan UUD maka wajib diganti.

Selanjutnya, NKRI, Edhy berpesan agar masyarakat menyadari bahwa seluruh bangsa ini hidup di wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote. Semuanya hidup sebagai bangsa yang satu, yaitu Republik Indonesia.

"Tidak ada negara lain yang bisa hidup di Indonesia ini, selain Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Edhy. Terakhir, adalah Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan wujud dari keberagaman Indonesia, lanjutnya.

Usai menyampaikan materi sosialisasi, Edhy menyerahkan tokoh wayang kepada Wakil Bupati Banyuasin, Slamet Somosentono yang diteruskan kepada dalang, Ki Seno Aji dari Wonogiri sebagai simbol acara dimulai.

Lakon wayang kulit adalah Wahyu Makutoro. Ceritanya mengisahkan tentang ajaran Asta Brata atau delapan pedoman atau perilaku yang harus dimiliki seorang pemimpin. Ke delapan perilaku itu berasal dari unsur yang ada di alam semesta, yaitu Surya (matahari), Candra (bulan), Kartika (bintang), Angkasa (langit), Maruto (angin), Samudera (laut), Dahana (api), dan Bumi (tanah).

Dalam kisah itu, dapat diambil hikmahnya bahwa jika seorang pemimpin tidak mengamalkan ajaran Asta Brata, sama halnya dengan pemimpin yang tak bermahkota. Begitu pula rakyat biasa yang mengamalkan ajaran Asta Brata maka boleh disebut rakyat yang bermahkota. Maka, kisah Wahyu Makutoromo ini sejalan dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Empat Pilar.

Sebagai informasi, warga masyarakat Desa Cintamanis Baru itu merupakan 65% adalah warga transmigran dari berbagai daerah di Jawa. Generasi transmigran pertama datang ke sana di tahun 1971, dan kini jumlah penduduk desa itu telah mencapai 900 KK atau sekitar 3000 jiwa. Mereka umumnya adalah petani karet dan kelapa sawit.
(mul/mpr)
mpr
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed