DetikNews
Senin 15 Oktober 2018, 10:25 WIB

Penerjemah Bahasa Isyarat Asian Para Games Jadi Viral, Ini Sosoknya

Faiq Hidayat - detikNews
Penerjemah Bahasa Isyarat Asian Para Games Jadi Viral, Ini Sosoknya Pinky Warouw (Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Sesosok perempuan dalam closing Asian Para Games 2018 jadi 'primadona' dan dibicarakan pengguna media sosial. Dia bukan atlet maupun artis, melainkan penerjemah bahasa isyarat yang tampil di layar TV.

Perempuan itu bernama Pinky Warouw. Video saat Pinky menerjemahkan lagu 'Gangnam Style' dalam closing Asian Para Games jadi viral dan dipuji netizen. Dalam video itu, bahkan penonton lebih fokus pada kotak kecil di sebelah kanan layar TV, tempat Pinky 'tampil' dengan ekspresif.

Lagu 'Gangnam Style' yang energetik dia terjemahkan dengan gerakan tangan dan ekspresi wajah yang tidak kalah seru dengan penampilan di layar. Gayanya ketika menerjemahkan lirik 'sexy lady' hingga membuat gerakan seperti DJ.







Lalu, bagaimana perasaan Pinky saat tahu sosoknya jadi viral?

"Senang saja sih. Untung bagus ya, kayaknya nggak ada yang komplain, puji Tuhan. Zaman sekarang kalau viral ada yang gimana gitu," kata Pinky saat berbincang dengan detikcom di Jakarta Selatan, Minggu (14/10) malam.



Pinky awalnya heran dan kaget. Itu karena dia sudah menjadi penerjemah bahasa isyarat ketika opening Asian Para Games juga, tapi baru menjadi viral ketika closing.

"Saya rasanya oke-oke saja, kaget saja untuk saya. Orang bilang viral penerjemah isyarat, ada bilang funky acara penutupan. Padahal pembukaan sudah kayak begitu, nggak ada yang tahu, mungkin nggak ada yang lihat ya," ucap Ketua Indonesia Sign Language Interpreters (Inasli) ini.

Gaya Pinky yang ekspresif saat menerjemahkan bahasa isyarat adalah penyebab dia jadi viral. Baginya, ekspresi itu sangat diperlukan karena itu berarti interpreter bekerja sepenuh hati.

"Sangat diperlukan, di sinilah letak kalau bilang ketrampilan interpreter yang bekerja dengan sepenuh hati, serius, dan empati besar. Karena banyak penerjemah isyarat mereka tahu bahasa isyarat penggunaan bagus tapi tidak cinta dengan orang tuli jadi nggak nyambung," ungkap Pinky.



Pinky menceritakan bagaimana empati dan rasa cinta menjadi modal bagi penerjemah bahasa isyarat. Isyarat tangan terkadang kurang cukup untuk menggambarkan bagaimana suasana yang terjadi.

"Saya selalu bilang kalau mau jadi interpreter bagus itu harus, terutama harus sayang dan suka orang tuli. Kedua, harus ada empatinya. Kalau suka dan mau belajar isyarat tapi tidak ada rasa sayang, maka bahasa isyarat mati," tegas perempuan yang sudah 18 tahun jadi penerjemah bahasa isyarat ini.


Saksikan juga video 'Membanggakan! Putra Dewi Yull Ajari Presiden Jokowi Bahasa Isyarat':

[Gambas:Video 20detik]


(imk/bpn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed