Tinggalkan Palu Mencari Lembaran Baru

Ibad Durohman - detikNews
Minggu, 14 Okt 2018 16:26 WIB
Foto: Pradita Utama
Jakarta - Tak seperti hari biasanya, Jumat, 28 September 2018, itu, putra Dian Kemalasari yang baru berusia 2 tahun rewelnya minta ampun. Sejak sore, anak pertamanya itu menangis, gelisah tak keruan, dan emoh makan. Padahal jam makan sore hampir lewat. Si sulung merengek minta dibelikan biskuit.

"Anak saya biasanya anteng, tapi hari itu rewel sekali, minta dibelikan biskuit. Tapi belakangan saya bersyukur, mungkin itu cara dia menyelamatkan mamanya. Sebab, kalau tidak keluar dari rumah, mungkin kita sudah terkubur," kata Dian kepada detikcom melalui telepon, Senin, 8 Oktober.

Dian adalah salah satu penduduk Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, yang terkena dampak gempa besar yang melanda Palu dan Donggala pada pengujung September 2018. Ia, kedua anaknya yang masih kecil, serta seorang asisten rumah tangga (ART) selamat. Sedangkan sang suami tengah bertugas ke Polewali Mandar, Sulawesi Barat, saat gempa terjadi.

Namun rumah mereka di Perumahan Petobo Eksklusif Blok A No 14 kini tinggal kenangan. Rumah itu tersedot lumpur yang 'menelan' sebagian bumi Petobo pascagempa bermagnitudo 6 pada petang itu. Hanya bagian atap rumahnya yang kini masih bisa dilihat.

Suasana di dalam pesawat Hercules yang mengangkut pengungsi gempa PaluSuasana di dalam pesawat Hercules yang mengangkut pengungsi gempa Palu Foto: Pradita Utama

Mengenang kembali detik-detik bencana yang memilukan itu, Dian bertutur, dia dan kedua anaknya sedang memilih-milih biskuit di sebuah minimarket yang berjarak 1 kilometer dari rumahnya. Tiba-tiba guncangan hebat terjadi. Etalase dan barang dagangan berjatuhan. Dinding kaca ambyar. Langit-langit bangunan runtuh. Beruntung, Dian dan anak-anaknya serta ART yang mengantar mereka ke minimarket tidak tertimpa reruntuhan itu.

Dian segera memeluk erat kedua anaknya. Ia menggendong si bungsu keluar dari minimarket, sedangkan si sulung digendong ART. Namun suasana di luar minimarket lebih mengerikan. Bangunan-bangunan rata dengan tanah. Orang-orang lari berhamburan. Dian pun berlari menuju tanah lapang yang ada di dataran tinggi. Tapi orang-orang dari arah atas justru berlarian ke bawah dan berteriak-teriak ada tsunami. "Ternyata, pas saya lihat, itu bukan air, tapi aspal yang seperti gelombang tinggi. Sekitar 10 meter. Seperti tiang listrik tingginya," Dian bercerita.

Jalan ke kompleks perumahan Dian tak berbentuk lagi. Akhirnya ia memutuskan mencari lokasi yang aman. Namun ternyata keluar dari Petobo bukan perkara mudah. Ia harus merayap di atap-atap rumah yang terbenam lumpur sambil menggendong buah hati. Gelapnya malam karena terputusnya aliran listrik membuat Dian beberapa kali menubruk reruntuhan bangunan atau terjerembap ke lumpur hingga setengah badan.

"Saya merasa sudah jalan berkilo-kilometer, karena sangat gelap dan tidak ada penerangan, tapi ternyata hanya berputar-putar saja di sekitar situ," katanya.

Di tengah susah payah melewati rintangan yang berat itu, Dian mendengar banyak jeritan warga minta tolong. Suara tangis bayi pun seolah bersahutan di kegelapan malam. Namun Dian tidak tahu harus berbuat apa kecuali menyelamatkan diri dan keluarganya. "Saya juga setengah mati sama anak saya. Tidak banyak juga yang selamat di situ," ucapnya.

Menjelang fajar Sabtu, 29 September, Dian tiba di pengungsian kantor Wali Kota Palu. Di tempat itu, ia baru bisa menghubungi suaminya. Keduanya bertemu keesokan harinya. Tiga hari di pengungsian, Dian dan suaminya merasa tak ada pilihan lain kecuali meninggalkan Palu.

Dian akhirnya hijrah ke tempat ibu mertuanya di Poso. Rumahnya yang dibangun sejak 2015 tak bisa lagi ditinggali. Mayat-mayat yang belum dievakuasi di Kota Palu saat itu membuat trauma. Belum lagi kondisi pengungsian yang penuh dengan keterbatasan.

"Tidak ada bahan makanan untuk anak saya. Masa setiap hari makan mi dan telur? Kasihan. Anak-anak juga sudah gatal-gatal karena tidak mandi. Dari hari pertama gempa, saya takut airnya sudah tercemar oleh mayat-mayat. Saya cuma tahan tiga hari di pengungsian," kata Dian.

Dian mengaku belum bisa memastikan sampai kapan harus menumpang di rumah mertuanya. Ia juga belum mendapatkan kejelasan dari pemerintah perihal bantuan bagi warga Petobo yang terkena likuefaksi. Terlebih pemerintah sudah memastikan Petobo bakal menjadi kuburan massal dan dilarang dibangun kembali sebagai permukiman.

Beberapa hari lalu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan warga Petobo akan direlokasi ke tempat lain. "Karena memang medannya, fondasi, dan kondisi geologinya sudah tidak bisa dipakai lagi. Kalau kita bangun lagi, kita nggak tahu lagi kan kapan ada gempa. Kalau kita bangun lagi, pasti terulang lagi," ucap Basuki di Palu, Jumat, 5 Oktober.

Sama seperti Dian, Fadli Amir, seorang warga Kecamatan Palu Selatan, juga pergi meninggalkan Kota Palu. Dengan menumpang truk relawan, Fadli, istri, dan kedua anaknya berangkat menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun di Makassar tidak ada kerabat atau sanak saudara seorang pun, keputusan itu sudah bulat diambilnya.

"Ini saya sedang di mobil truk relawan di belakang. Saya sama anak-istri ikut menumpang saja ke Makassar. Kasihan istri saya menangis terus kalau di pengungsian. Dia sudah tidak tahan, ingin pergi. Saya juga trauma kalau melihat jenazah di pinggir jalan. Jadi, ketika ada kesempatan menumpang, saya langsung berangkat," kata Fadli kepada detikcom lewat telepon, Jumat, 5 Oktober.

Truk yang ditumpangi Fadli dan keluarganya melaju pada malam itu. Ia terbayang rumah yang ditingggalkannya. Rumah itu hancur. Beruntung, pascagempa, seluruh uang tabungan dan emas miliknya, yang dia kumpulkan bertahun-tahun, masih aman. Padahal penjarahan sempat merebak di sejumlah tempat di Palu.

"Uang dan perhiasan milik saya inilah yang menjadi modal awal saya untuk pergi ke Makassar, untuk membuat lembaran baru. Jumlahnya lumayan buat menyambung hidup di Makassar," kata Fadli dengan suara bergetar. Entah sampai kapan, tetapi yang penting, bagi Fadli, ia bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan lebih baik di tempat baru.

Ulasan selengkapnya dapat Anda baca di detikX edisi 11 Oktober 2018 (irw/irw)