DetikNews
Jumat 12 Oktober 2018, 08:56 WIB

Antara 'Make Indonesia Great Again' Prabowo dan Kemenangan Trump

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Antara Make Indonesia Great Again Prabowo dan Kemenangan Trump Prabowo Subianto. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menang pilpres tahun 2016 dengan slogan 'Make America Great Again'. Kini Capres RI nomor urut 02 Prabowo Subianto bicara 'Make Indonesia Great Again'.

Selama masa kampanye, Trump hampir selalu didera kontroversi. Trump yang jadi sasaran berbagai tuduhan pelecehan seksual, berhasil menang meski dia sendiri tak pernah bisa membuat Partai Republik bersatu mendukungnya. Trump yang ketahuan tidak membayar pajak selama bertahun-tahun, mengancam akan melarang warga muslim masuk ke Amerika. Trump juga pernah mengancam akan mengusir para imigran ilegal dan membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko.



"Perjalanan elektabilitas Trump sebetulnya yang menarik, pertama adalah dia yang tadinya 'underdog' di kalangan Republikan kemudian jadi calon paling tinggi. Selama melawan Hillary Clinton sebetulnya kalah kalau bicara popular vote. Tapi kalau di sana pakainya electoral vote, kalau bicara popular vote dia kalah," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat berbincang dengan detikcom, Kamis (11/10/2018) malam.

Menurut Qodari, jurus-jurus Trump terbukti mampu mengalahkan Hillary. Trump, menurut pengamatan Qodari, sering menumbuhkan pesimisme dalam pidatonya.

Baca Juga: Indo Barometer: Prabowo Jalankan Strategi Donald Trump

"Trump ambil isu yang tak digunakan teman-temannya sesama capres AS, menggunakan cara frontal dan konfrontatif, menyebarkan ketakutan dan pesimisme, dan ternyata itu dimakan kalangan menengah ke bawah," ujar Qodari.

Antara 'Make Indonesia Great Again' Prabowo dan Kemenangan TrumpTrump saat kampanye untuk Pilpres AS tahun 2016 dengan slogan andalannya. Foto: REUTERS/Rebecca Cook


Meski kelihatannya Trump mampu mengambil hati sebagian rakyat Amerika Serikat, tetapi ada variabel lain yang jadi penentu kemenangan Trump. Menurut Qodari, ada perbedaan sistem politik antara AS dengan Indonesia.

"Di AS walaupun ada banyak partai, yang besar dua saja. Dua partai ini punya party ID yang tinggi pemilih, loyalisnya besar, bisa dibilang 50:50. Trump ini berdiri atau maju di atas dukungan partai yang sudah besar, itu berbeda dengan Gerindra. Indonesia ini multipartai, tak ada yang dominan," ujar Qodari.

Hasil exit poll nasional yang dirilis Politico usai pilpres AS tahun 2016 seperti pernah diberitakan detikcom, mendukung asumsi tentang perubahan yang diinginkan para pemilih AS. Ketika ditanya mengenai hal yang paling penting untuk presiden baru AS, sebagian besar yakni sebanyak 36 persen pemilih mengatakan mereka menginginkan "pemimpin yang kuat".

Sementara 16 persen pemilih menginginkan pemimpin yang "peduli dengan orang-orang seperti saya" dan 16 persen pemilih lainnya menginginkan pemimpin yang "memiliki nilai-nilai yang sama dengan saya."

Persentase pemilih yang menginginkan pemimpin yang kuat tersebut -- karakter yang dijadikan fokus tim Trump selama kampanye lewat slogan "Make America Great Again" -- dua kali lebih tinggi dari persentase pemilih yang menginginkan pemimpin yang kuat dalam exit poll nasional serupa saat pilpres 2012 silam.

Kesamaan 'Jurus' Trump dan Prabowo

Walau ada perbedaan sistem demokrasi dan karakter masyarakat, Qodari menyoroti adanya persamaan antara Prabowo dengan Trump. Salah satunya adalah materi pidato yang disampaikan.



"Menurut saya secara garis besar jurusnya memang ya tadi, menyebarkan rasa takut dan pesimisme. Harapannya masyarakat akan tidak puas dengan kinerja pemerintah, mereka akan mencari pemimpin yang lain di luar incumbent. Gimana menyebar ketakutan? Misal dengan sebar 'ada ancaman dari China',
termasuk isu Ratna Sarumpaet dimakan karena mereka memanfaatkan yang sesuai tujuan mereka. Dikesankan Ratna ini dianiaya, kemudian dikatakan bahwa Ratna adalah salah satu timses Prabowo, dikesankan bahwa rezim incumbent semena-mena. Kalau Ratna tak mengaku (bohong) dan buktinya nyata dari kepolisian, kasus Ratna dipakai luas dan massif," papar Qodari.

Selain itu isu soal ancaman ekonomi juga menurut Qodari sama-sama dipakai oleh Trump dan Prabowo. Begitu pula halnya dengan isu imigran gelap.

Sementara itu Trump pada Pilpres 2016 memang bukan melawan petahana, tetapi melawan calon yang didukung oleh petahana saat itu Barack Obama. Tetapi intinya, kata Qodari, narasi yang dibangun sama-sama membuat publik merasa tak puas dengan petahana.

"Pada dasarnya begini, peluang incumbent adalah tingkat kepuasan. Dengan pesimisme yang berkembang, kalau kepuasan menurun apalagi di bawah 50% memang mekanismenya reward and punishment, kalau kepuasan di atas 50% pasti dipilih kembali dan kalau di bawah 50% bisa tidak dipilih. Intinya membangun ketidakpuasan kepada pemerintah," ujar Qodari.

Sementara itu partai pengusung Prabowo membantah jika 'Make Indonesia Great Again' dimaksudkan untuk meniru Trump. Menurut Ketua DPP Gerindra Habiburokhman, itu adalah slogan membela kepentingan negara.

"Sangat tepat apa yang disampaikan Pak Prabowo, itu narasi sarat nasionalisme. Soal membela tanah air itu, bukan meniru-niru AS, tapi memang semua pemimpin harus begitu," jawab Ketua DPP Gerindra Habiburokhman saat dihubungi, Kamis siang.

Prabowo Subianto membahas slogan kampanye Presiden AS Donald Trump saat berbicara di Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Ia bicara slogan khas Trump yang menurutnya bisa diadopsi bangsa Indonesia.

"Begitu AS merasa kalah bersaing dengan Tiongkok, mereka menyatakan perang dagang, tidak ada free trade (perdagangan bebas). Kenapa mereka mengatakan America First, Make America Great Again, dia mengatakan the important sign is American job," kata Prabowo di Rakernas LDII di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis siang.

"Kok bangsa ini tidak berani mengatakan, bagi bangsa Indonesia, 'Indonesia First, Make Indonesia Great Again'. Mengapa pemimpin Indonesia tak ada yang berani mengatakan yang penting adalah 'pekerjaan bagi rakyat Indonesia'," sambung dia.


Simak Juga 'Prabowo Tiru Jargon Donald Trump, Tim Jokowi: Tidak Kreatif':

[Gambas:Video 20detik]



(bag/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed