Konflik Kembali Memanas, Massa Tedjowulan Datangi Kraton Solo
Jumat, 19 Agu 2005 16:00 WIB
Solo - Perseteruan keluarga Kraton Solo kembali memanas. Sekitar 400 orang pendukung Paku Buwono XIII Tedjowulan mendatangi Kraton Solo yang dikuasai oleh kubu Paku Buwono XIII Hangabehi. Namun, upaya masuk kraton gagal karena pintu utama ditutup rapat. Kedatangan para pendukung Tedjowulan ini diawali dengan kedatangan Gusti Kanjeng Ratu Alit, anak tertua dari 36 putera PB XII, Jumat (19/8/2005) pukul 11.00 WIB. Ratu Alit datang ke kraton dengan meminta pengawalan polisi disertai beberapa putra almarhum PB XII dan kerabat kraton lain yang selama ini mendukung PB XIII Tedjowulan. Tujuan Ratu Alit ke kraton untuk masuk rumahnya yang berada dalam kraton. Maklum saja, sejak beberapa bulan lalu, ia diusir dari rumahnya oleh kubu PB XIII Hangabehi.Kedatangan Ratu Alit dan rombongan diterima oleh Kanjeng Pangeran Satrio Hadinagoro, adik ipar Hangabehi di Kori Kamandungan, depan pintu utama kraton. Inti pembicaraan, pihak Hangabehi menolak keinginan Ratu Alit masuk kraton hari ini karena di dalam kraton ada persiapan jumenengan atau naik tahtanya Hangabehi pada 30 Agustus nanti.Karena tidak diperbolehkan masuk, polisi menghentikan perdebatan untuk menghindari perselisihan lebih sengit. Meski pembicaraan buntu, Ratu Alit tidak segera pergi dari tempat tersebut. Ia memilih duduk di lantai Kori Kamandungan dan menyesalkan sikap Hangabehi yang menolaknya masuk.Sekitar pukul 13.30 WIB, ratusan orang yang sebagian besar menggunakan kaos bergambar Tedjowulan masuk ke kraton bergabung dengan Ratu Alit. Ruangan Kori Kamandungan pun tidak mampu memuat mereka. Namun pihak Hangabehi tetap bersikeras tak mau membuka pintu utama kraton.Sebagai anak PB XII, Ratu Alit mengaku berhak untuk memasuki rumahnya, sekaligus ingin memeriksa pusaka keraton. Karena sejak PB XII masih berkuasa, Ratu Alit yang dipercaya memegang kunci dan memelihara benda-benda pusaka. Namun tetap ditolak oleh kubu Hangabehi.Kedatangan Ratu Alit dan ratusan orang ke Kraton Solo ini terkait dengan perebutan kekuasaan sesama anak PB XII. Setelah PB XII wafat, Tedjowulan naik tahta menjadi pemangku PB XIII. Namun naiknya Tedjowulan ditentang kubu Hangabehi sehingga pelantikan dilakukan di luar kraton, yakni di rumah Mooryati Soedibyo yang juga bos Mustika Ratu di Jalan Muwardi, Solo.Beberapa hari kemudian, pihak yang menentang penobatan Tedjowulan, mendukung Hangabehi sebagai PB XIII dan dinobatkan di kraton Solo. Sampai saat ini konflik raja kembar di Kraton Solo masih berlangsung.
(jon/)











































