"Kreativitas santri tidak pernah lekang oleh zaman. Lagu 'Syubbanul Wathon' dibawakan dalam musik rock, ini menunjukkan apa yang dikarang KH Wahab Hasbullan pada 1930-an kini relevansinya kembali digugah dengan pendekatan Candra Malik," kata Rommy dalam keterangan tertulis, Kamis (11/10/2018).
Rommy hadir dalam Malam Kebudayaan Pesantren yang digelar di Panggung Krapyak, Yogyakarta, malam tadi. Ia menyaksikan pentas stand up comedy, musik, hingga puisi bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Ia pun mengaku tertarik pada penampilan para santri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan kemampuan santri yang mampu mengubah selawat dengan nada lagu 'Despacito'. Menurutnya, selawatan tersebut memiliki sentuhan etnis dan tak meninggalkan tradisi selawatan.
"Pertama, tradisi selawatan itu dipertahankan. Kedua, konten etnis sebagai Indonesia tetap dimunculkan. Dan di satu sisi electro funk music-nya juga terasa," imbuh dia.
Menurutnya, apa yang dilakukan Candra Malik mirip dengan strategi dakwah Wali Sanga. Hanya, para wali menggunakan media wayang kulit, sementara Candra Malik menggunakan musik modern dalam mempopulerkan tradisi Islam.
"Saya mengatakan apa yang tadi banyak ditampilkan, rap santri dan lain sebagainya, itu persis saat para wali masuk ke Indonesia, yang menggunakan wayang sebagai medium penyebaran agama Islam. Tidak menegasikan wayang sebagai alhuf muhakkamah, wayangnya disyahadatkan. 'Despacito' syair aslinya itu tidak senonoh. Namun, karena menjadi tone yang digemari anak muda, maka 'Despacito'-nya yang diselawatkan," pungkasnya.
Simak Juga 'Jaringan Kiai Santri Nasional Dukung Jokowi-Ma'ruf':
(ega/idr)











































