DetikNews
Kamis 11 Oktober 2018, 11:47 WIB

PSI: Pertamax Itu Dinikmati Orang Kaya Seperti Prabowo-Sandi

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
PSI: Pertamax Itu Dinikmati Orang Kaya Seperti Prabowo-Sandi Prabowo Subianto (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta - Waketum Partai Gerindra Fadli Zon menyindir pemerintah atas kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax menjadi Rp 10.400 dengan mengubah lirik lagu 'Naik-naik ke Puncak Gunung'. PSI balik menyindir Fadli.

Sekjen PSI Raja Juli Antoni menyebut Fadli tak kreatif. Sebagai Wakil Ketua DPR RI, Fadli disebutnya tak pantas sesuka hati mengubah lirik lagu orang lain demi kepentingan politik, dalam hal ini untuk kepentingan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Itulah kualitas Wakil Ketua DPR dari Gerindra semacam plagiatlah, ya, mengubah bait-bait lagu yang sudah terkenal, menunggangi lagu yang sudah terkenal demi kepentingan politik Prabowo," kata Toni saat dihubungi, Kamis (11/10/2018).


"Nah, mungkin perlu saran saya sih Fadli bisa meng-hire pencipta lagu dari Rusia," sambungnya.

Toni juga mengaku heran dengan jalan pikir Fadli mengkritik harga Pertamax yang naik dan menyebut rakyat sengsara karena kenaikan itu. Sebab, menurut Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin itu, Pertamax memang untuk dikonsumsi kalangan menengah ke atas.

PSI: Pertamax itu Dinikmati Orang Kaya Seperti Prabowo-SandiRaja Juli Antoni (Ari Saputra/detikcom)

"Pertamax itu dinikmati oleh kelas menengah ke atas, orang kaya, seperti Sandi dan Prabowo. Jadi nggak mungkin Sandi dan Prabowo memelas minta kepada negara (harga murah) ketika harga acuan minyak dunia juga naik," kata Toni.


PT Pertamina (Persero) kemarin menaikkan harga BBM Pertamax menjadi Rp 10.400. Waketum Partai Gerindra Fadli Zon lalu menyindir pemerintah atas kebijakan itu.

Sindiran disampaikan Fadli lewat akun Twitter @fadlizon dengan memuat lirik lagu 'Naik-naik ke Puncak Gunung'. Namun sama seperti lagu 'Potong Bebek Angsa', lirik lagu ciptaan Ibu Sud tersebut diubah untuk mengkritik pemerintah Jokowi.
(mae/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed