detikNews
Rabu 10 Oktober 2018, 16:04 WIB

Seorang Hakim di Vonis Banding Nilai Fredrich Layak Dihukum 10 Tahun

Faiq Hidayat - detikNews
Seorang Hakim di Vonis Banding Nilai Fredrich Layak Dihukum 10 Tahun Fredrich Yunadi (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Vonis di tingkat banding untuk Fredrich Yunadi tidak bertambah atau berkurang, tetap pada 7 tahun penjara. Namun seorang hakim yang mengadili Fredrich di tingkat banding itu memiliki pandangan lain.

Perkara itu diadili majelis hakim banding Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta yang diketuai Ester Siregar dengan hakim anggota I Nyoman Sutama, James Butarbutar, Anthon R Saragih, dan Jeldi Ramadhan. Mereka sepakat dengan putusan Pengadilan Tipikor Jakarta, tetapi hakim Jeldi menilai hukuman Fredrich seharusnya lebih berat.

Dalam pertimbangan, Jeldi menyatakan Fredrich seharusnya menyadari advokat adalah profesi yang terhormat. Dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013, advokat berstatus sebagai penegak hukum serta salah satu perangkat proses peradilan. Advokat juga seharusnya bekerja sama dengan penegak hukum lainnya.

"Menimbang bahwa dalam menegakkan hukum dan keadilan bersama aparat penegak hukum lainnya dalam membela kliennya, seorang advokat seharusnya tetap menghormati fungsi, tugas, dan wewenang masing-masing dan selalu koordinasi horizontal dan vertikal secara berkala dan berkesinambungan," ujar Jeldi.

Dia menyakini tindak pidana korupsi adalah kejahatan luar biasa sehingga Fredrich tidak boleh menghalangi penyidikan KPK. Dalam perbuatan menghalangi penyidikan, Fredrich disebut mempunyai niat jahat dalam membela kliennya. Fredrich melakukan kebohongan mulai keberadaan Novanto hingga merekayasa kecelakaan secara sistematis.




"Menimbang, berdasarkan hal tersebut di atas dan di mana kapasitas terdakwa sebagai bagian criminal justice system, yang seharusnya menjunjung tinggi hukum dan keadilan tetapi hukum melakukan hal-hal yang melawan hukum. Hakim ad hoc Jeldi Ramadhan berpendirian putusan yang telah dijatuhkan tingkat pertama terlalu ringan dan karenanya terdakwa dijatuhi hukuman pidana setimpal dengan perbuatan dan guna memenuhi rasa keadilan masyarakat, yaitu dengan pidana penjara selama 10 tahun," kata hakim.

Tapi putusan hakim yang diambil suara terbanyak, Jeldi kalah voting. Fredrich tetap dijatuhi hukuman 7 tahun penjara.

Fredrich divonis 7 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan pada 28 Juni 2018. Fredrich terbukti merintangi penyidikan KPK terhadap Novanto dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.

Majelis hakim menyebut Fredrich membuat rencana Novanto dirawat di rumah sakit agar tidak bisa diperiksa dalam kasus proyek e-KTP oleh penyidik KPK. Fredrich pun menghubungi dokter Bimanesh Sutarjo karena Novanto ingin dirawat di RS Medika Permata Hijau.


Saksikan juga video 'Vonis 7 Tahun untuk Fredrich Yunadi':

[Gambas:Video 20detik]


(fai/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed